Selasa, 18 November 2014

Materi PAI Kls XII SMKN. Kalibaru (Sejarah Islam Di Indonesia)

Modul XII,5,6 Islam di Indonesia
PERKEMBANGAN ISLAM DI INDONESIA
Standar Kompetensi             :   Memahami Perkembangan Islam di Indonesia
Kompetensi Dasar               :   -     Menjelaskan Perkembangan Islam di Indonesia
-     Menampilkan Contoh Perkembangan Islam di Indonesia
-     Mengambil Hikmah dari Perkembangan Islam di Indonesia
Alokasi waktu                         :  6 jam pelajaran (3 x pertemuan)
Pelaksanaan                             :  TM ke 17,18 dan 19

A.    Masuknya Islam di Indonesia
Dalam sebagian buku sejarah Indonesia kita jumpai keterangan bahwa Islam ke Indonesia pada abad ke-13 M. Akan tetapi, apakah benar agama Islam baru tersebar di wilayah Nusantara pada abad tersebut. Beberapa penelitian sejarah membuktikan bahwa banyak peninggalan benda sejarah yang ditemukan berusia lebih tua dibanding dengan keterangan yang tercantum dalam beberapa buku sejarah Indonesia. Bahkan bisa dibilang bahwa pendapat tersebut kurang tepat. Sebagian sejarawan mensinyalir bahwa keterangan tersebut diambil dari buku-buku yang ditulis pada zaman kolonial yang bertujuan untuk mengaburkan fakta sejarah Islam di Indonesia.
Sebagaimana kita sudah ketahui, agama Islam muncul di kota Mekah yang dibawa oleh Nabi Allah Muhammad saw pada tahun 571-632 M. Tanpa diprediksi sebelumnya, dakwah Islam ternyata mengalami proses penyebaran yang sangat cepat. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, ajaran tauhid tersebut telah tersebar ke seluruh negeri Arab dan negeri – negeri sekitarnya. Pada masa itu juga, yakni pada abad VII M. Agama Islam telah masuk ke kawasan Tiongkok dan terus menyebar ke kawasan Asia Tenggara, termasuk kawasan Nusantara yang telah kedatangan para saudagar muslim pada abad VII M.
Banyak versi yang menyebutkan daerah asal saudagar muslim yang singgah di pelabuhan-pelabuhan Nusantara pada abad-abad itu. Di antaranya pendapat yang rnenyebutkan bahwa agama Islam mula-mula disiarkan oleh saudagar Gujarat – India, ada pula yang menyebutkan berasal dari Persia, dan ada juga yang menyebutkan berasal dari Arab.
Pendapat yang menyebutkan bahwa para saudagar muslimin itu berasal dari Arab berargumen bahwa tempat-tempat seperti Cambay, Gujarat maupun Malabar hannya sebagai tempat persinggahan bagi para penyiar agama Islam tersebut. Dengan demikian, mereka juga para saudagar yang berasal dari Arab.
Memang pada awalnya penyiaran agama Islam di Nusantara hanya melalui kontak perdagangan maupun pernikahan saudagar muslim dengan pribumi. Akan tetapi, setelah sentra keislaman di Timur Tengah dihancurkan oleh tentara Mongol, banyak ulama yang bermigrasi ke beberapa wilayah, seperti ke Mesir dan termasuk Nusantara. Semenjak itulah terjadi proses penyebaran Islam yang tidak hanya dilakukan oleh para saudagar muslim, namun juga dimotori oleh para ulama, teristimewa dari kalangan sufi.
Di antara sejarawan yang menyebutkan periode masuknya Islam di Indonesia adalah Dr. Hamka. Beliau berpendapat bahwa Islam telah masuk ke pulau Jawa pada abad ke-7 M, tepatnya pada tahun 674 M. Di pulau Jawa sendiri pada waktu itu telah dijumpai orang-orang Arab Islam. Sementara seminar tentang masuknya Islam di Indonesia di Medan tanggal 17-20 Maret 1963 mengambil kesimpulan bahwa Islam masuk di Indonesia pada abad 1 H/ abad  VII M langsung dari Arab. Daerah yang pertama didatangi para penyiar Islam adalah pesisir Sumatra. Menurut penelitian Drs. Juned Pariduri, ada sebuah makam/ kuburan seorang ulama yang bernama Syeikh Mukaiddin di Barus (Tapanulis). Batu nisan makam tersebut berangka tahun ba’-mim yang berarti 48 H = 670 M. Dengan demikian, menurutnya Islam datang ke Indonesia pada abad ke-7 M.

B.     Perkembangan Islam di Indonesia
  1. Perkembangan Islam di Sumatera
Agama Islam masuk ke Sumatra pada abad ke-7 M, langsung dibawa oleh para penyebar Islam dari Arab, yang kemudian diikuti oleh orang Persia dan India. Selanjutnya secara berangsur-angsur disiarkan oleh bangsa Indonesia sendiri hingga tersebar luas bukan saja di kawasan Sumatra, melainkan ke seluruh kepulauan Indonesia.
Adanya kerajaan Buddha Sriwijaya (tahun 683-1030 M), sedikit banyak mempengaruhi pertumbuhan Islam yang baru masuk, sehingga penyiarannya mengalami proses yang lama. Setelah Kerajaan Sriwijaya mendapat serbuan dari raja Rajendracoladewa dari India tahun 1030 M, kekuatan kerajaan menjadi lemah, sehingga daerah-daerah yang baru mengalami proses pengislaman mengalami kemajuan yang pesat dan memiliki kesempatan yang baik untuk mendirikan kerajaan Islam yang pertama di Pasai. Pada saat-saat itu dakwah Islam khususnya di daerah Aceh dan Sumatra Utara mulai memperluas wilayahnya. Maka perkembangan Islam mulai dari Pasai ke Malaka, Tapanuli, Riau, Minangkabau, Kerinci dan ke darah-daerah lainnya.
Perkembangan berikutnya ditandai dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di Sumatra, antara lain kerajaan Islam Samudra Pasai abad XII-XV dan Kerajaan Aceh pada abad XVI. Raja-raja Islam yang pernah berkuasa pada masa kerajaan Samudra Pasai antara lain:
a.  Sultan al-Malikush Shaleh
b.  Sultan al-Malikuz Zahir I
c.  Sultan al-Malikuz Zahir II
d.  Sultan Iskandar
Sedangkan Raja-raja yang pernah berkuasa pada masa Kerajaan Aceh adalah sebagai berikut :
a.       Sultan Ali Mughayat atau dikenal dengan nama Sultan Ibrahim.
b.      Sultan Shalahuddin
c.       Sultan Azlauddin Ri’ayat Shah
d.      Sultan  Husin
e.       Sultan Zainal Abidin
f.       Sultan Alauddin Shah\
g.       Sultan Ali Ri'ayat Syah
h.      Sultan Alauddin Mansyur Shah
i.        Sultan Iskandr Muda Mahkota Alam.
  1. Perkembangan Islam di Jawa
Pada masa-masa masuknya Islam di Jawa, kondisi politik kerajaan Hindu, baik di Jawa Barat, Jawa Tengah, maupun Jawa Timur masih sangat kuat. Agama Islam yang datang lebih belakang tidak bisa tersiar dengan cepat dan mudah. Setelah mengalami proses yang lama (antara abad ke-7 sampai 16 M), agama Islam di Jawa baru dapat berkembang dengan pesat, yaitu setelah kerajaan Hindu Majapahit mulai merosot kekuasaanya.
Perkembang Islam di Jawa tidak terlepas dari perjuangan para Wali Sembilan (Wali Songo) yang hidup pada zaman kesultanan Demak antara tahun 1500-1550 M. Mereka juga berjasa dalam mempertahankan negaradari ancaman penjajah Portugis. Wali-wali sembilan tersebut adalah sebagai berikut :
a.      Maulana Malik Ibrahim
Maulana Malik Ibrahim juga terkenal dengan nama Maulana Maghribi yang berasal dari negeri Arab keturunan dari Zainul Abidin bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Beliau wafat pada tanggal 12 Rabiul Awal 882 H / April 1419 M.
Jasa-jasanya antara lain, pada tahun 1379 M bermaksud mengislamkan Raja Majapahit, yaitu Hayam Wuruk, tetapi usahanya tidak berhasil. Di Gresik ia mendirikan masjid dan pondok pesantren tempat belajar para pemuda sebagai calon muballig Islam. Dari Gresik ia inengembangkan sayapnva untuk menyebarkan agama Islam di daerah-daerah lain di Indonesia.
b.      Sunan Ampel (Raden Rahmat)
Raden Rahmat berasal dari Campa, seorang Arab dan ibunya berasal dari Campa. Ia menikah dengan seorang putri dari Tuban, bernama Nyai Ageng Manila. Dari pernikahannya membuahkan keturunan Makhdum Ibrahim, Masih Maunat dan Nyai Gede Malihan
Jasa-jasanya antara lain, mengislamkan Arya Damar, yaitu patih Mangkubumi Majapahit. Beliau bertempat tinggal di Ampel-Surabaya untuk mengembangkan dakwah Islam dan menjadikan Ampel sebagai pusat kegiatan Islam, sehingga ia dikenal dengan nama Sunan Ampel.
c.       Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim)
Ia putra pertama Sunan Ampel, lahir pada tahun 1465 M. Berjasa dalam menyiarkan agama Islam di Jawa Timur. Ia mendirikan pondok pesantren untuk membina kader-kader Islam. Ia Wafat tahun 1515 M dan jenazahnya dimakamkan di Tuban.
d.      Sunan Giri (Maulana Ainul Yakin/ Raden Paku)
Ayahnya bernama Maulana Ishak. Waktu muda ia belajar ke Malaka, Iran dan Mekah. Kemudian ia menetap di Giri dekat Gresikdan disana mendirikan Masjid serta pondok pesantren. Sunan Giri berjasa mempertahankan Giri sebagai pusat keagamaan. Sehingga dikatakan bahwa sebelum Pemerintah Demak berdiri,Girilah satu-satunya Pemerintah Ulama di Jawa.
e.       Sunan Darajat (Raden Syarifuddin)
Sunan Drajat adalah putra Sunan Ampel. Ia menyiarkan agama Islam di Sedayu, Gresik, Jawa Timur. Ia adalah seorang Wali yang sangat cerdas dan giat menyiarkan agama Islam.Ia panutan masyarakat, pernah menciptakan gending Pangkur
f.        Sunan Kalijaga
Ia putra Tumenggung Suhur Wilatikta, Bupati Tuban. Ia menikah dengan Dewi Sarah binti Ishaq. Pernikahan ini membuahkan keturunan Umar Said (Sunan Muria),dewi Rukayah dan Dewi Safiah.
Ia adalah wali yang sangat berpengaruh di Jawa Tengah. Sunan Kalijaga mengajarkan Islam, dengan cara memuaskan hikayat Islam ke dalam cerita wayang. Ia melakukan dakwah kepada para petani dengan memberi alat-alat pertanian. Alat-alat itu ditafsirkan satu persatu yang mengandung pengertian agama. Karenanya rakyat sangat mencintainya dan sangat popular di kalangan masyarakat jelata. Berkat dakwahnya yang sangat bijaksana, banyak masyarakat yang masuk Islam. Setelah wafat, jenazahnya dimakamkan di desa Kadilangu dekat Demak. Banyak umat islam berziarah ke sana.
g.      Sunan Kudus (Syeikh Ja’far Shiddiq)
Sunan Kudus merupakan keturunan ‘Ali bin Abi Thalib. Nama kecilnya Untung ia berdakwah dengan cara mengikis habis pengaruh-pengaruh Hindu. Ia banyak berdakwah ke pesisir Jawa Tengah sebelah Utara. Ia pernah diangkat menjadi senopati Demak. Ia menciptakan gading Maskumambang dan Mijil. Beliau dimakamkan di Kudus yang hingga sekarang banyak diziarahi umat Islam. 
h.      Sunan Muria (Umar Sa’id)
Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijaga, menikah dengan Dewi Sujinah dan dikaruniai seorang putra bernama Pangeran Santri. Sunan Muria berjuang menyiarkan agama di daerah Muria dekat kota Kudus. Untuk kepentingan dakwahnya ia menciptakan lagu jawa Sinom dan Kinanti. Setelah wafat dimakamkan di Gunung Muria.
i.        Sunan Gunung jati (Fatahillah)
Fatahillah lahir dan dibesarkan di Pasai dari orang tua berketurunan Arab, ia kemudian hijrah ke Demak pada masa Pangeran Trenggono menjadi Sultan Demak III. Selain sebagai seorang da’i, beliau juga seorang politikus dan panglima perang. Fatahillah berhasil menaklukkan Jawa secara umum dengan membangun kerajaan Banten dan Cirebon, merebut Sunda Kelapadan mengganti namanya menjadi Jayakarta pada tahun 1572. Sebagai ulama, ia dikenal dengan beberapa gelar, antara lain : Syeikh Ibrahim bin Maulana Syeikh Ismail, Syarif HIdayatullah, Sayid Kamil dan Makhdum Rahmatullah. Beliau wafat tahun 1572 dan dimakamkan di Gunung Jati Cirebon.

3.      Perkembangan Islam di Sulawesi
Perkembangan islam di Sulawesi tidak sepesat perkembangan Islam di Jawa dan Sumatra. Pengislaman di Sulawesi dilakukan dengan cara damai. Kadang-kadang memang terjadi pertentangan antara daerah yang satu dengan daerah yang lainnya. Akan tetapi, pertentangan tersebut bukan karena kepentingan Islam, melainkan karena kepentingan politik satu kerajaan Islam dengan kerajaan non-Islam, misalnya Kerajaan Gowa dengan Kerajaan Sopeng. Para penyebar Islam di Sulawesi yang terkenal adalah Dato’ti Bandang dan Dato Sulaiman. Dato’ti Bandang berasal dari Jawa, murid Sunan Giri. ia mengajarkan agama Islam kepada rakyat dan raja.
Daerah pelopor pengembangan agama Islam di Gowa-Tallo, Semula Gowa – Tallo hanya kerajaan kecil yang terdiri dari sembilan daerah, yaitu : Laking, Saumata, Parang-parang, Data, Agong – Jenu, Besir, Kalling dan Sero. Sembilan daerah tersebut terus diperluas ke daerah Katinggang, Perisi, Sedang, Sidenreng, Lembayung, Bulu Komba dan Selayar. Daerah – daerah sebanyak itu diislamkan oleh Gowa-Talo. Setelah daerah-daerah tersebut diislamkan, pengembangan Islam terus diperluas ke daerah – daerah Kerajaan Sopeng, Wajo dan akhirnya Bone sekitar tahun 1606 diislamkan oleh Woga – Tallo.
Pada waktu kerajaan Gowa berdiri di bagian Selatan Sulawesi, dibagian utara berdiri pula Kerajaan Bolang Mongondo yang berhaluan Kristen. Jacobus Manoppo adalah raja pertamanya, memerintah tahun 1689 – 1709 M. Para Muballig Bugis datang menyiarkan agama Islam ke bagian Utara pada abad ke-18 yang dipelopori oleh Hakim Bugis dan Imam Tuwako. Secara perlahan-lahan masyarakat kalangan bawah banyak yang tertarik kepada Islam. Bahkan pada tahun 1844 M, Raja Yacobus masuk Islam secara terang-terangan, sehingga secara berbondong-bondong banyak masyarakat yang ikut masuk Islam.
Banyaknya kaum Kristiani yang memeluk Islam karena beberapa hal, antara lain:
1)      Tertarik kepada kepribadian pada muballig Islam
2)      Para muballig Bugis mampu menjelaskan agama Islam terutama yang berkaitan dengan masalah ketuhanan
3)      Terputusnya bantuan dan dukungan pemerintahan Hindia Belanda yang selama itu diberikan VOC.
4.      Perkembangan Islam di kalimantan.
Sebelum agama Islam masuk ke Kalimantan, masyarakat banyak yang memeluk agama Hindu, terutama karena pengaruh kekuasaan Kerajaan Majapahit. Setelah Majapahit runtuh pada tahun 1488 M, mulai timbul pemberontakan dan perebutan kekuasaan. Raja Banjar yang beragama Hindu minta bantuan Sultan Demak. Demak bersedia memberi bantuan dengan syarat Raja Bandar dan penduduknya memeluk agama Islam. Syarat ini diterima oleh Raja Banjar. Setelah memeluk Islam, Raja Banjar mengganti namanya menjadi Suryanullah. Sultan Suryanullah dengan bantuan dari Demak dapat mengalahkan Kerajaan Negaradipa dan agama Islam pun semakin berkembang di kawasan Kalimantan.
Masih pada abad ke-16 atau pada tahun 1590 M Kerajaan Sukadana resmi menjadi kerajaan Islam, dengan Sultan pertamanya adalah Sunan Giri Kusuma. Setelah itu digantikan oleh putranya, yaitu Sultan Muhammad Syarifuddin. Beliau banyak berjasa dalam mengembangkan Islam kerena bantuan seorang muballig bernama Syeikh Syamsuddin.  
5.      Perkembangan Islam di Maluku dan Irian
Sultan Zainal Abidin yang memerintah Ternate (1486 – 1500 M) telah masuk Islam. Demikian juga Sultan Cililiyati dari Tidore dan sultan Hasanuddin dari Jailolo. sebelum ketiga orang sultan tersebut masuk Islam, rakyat Maluku sudah banyak yang masuk Islam. Pada masa itu masyarakat muslim sudah terdapat di Banda, Hitu, Haruku, Makyan dan Bacan.
Hubungan antara maluku dan jawa erat, Sultan Zainal Abidin sendiri mendapat pelajaran agama Islam di Giri. Sultan juga membawa muballig dari Giri bernama Tuhubahabul agar mengajar dan mengembangkan Islam di daerah Maluku. Sejak tahun 1575, Sultan Bahabullah di Ternate terus mengembangkan agama Islam, sehingga Islam banyak dipeluk oleh rakyat Mindanau, Irian, Sulawesi sampai pulau Buton.
Sementara itu, Islam tidak berkembang dengan pesat di Irian, terutama karena kuatnya pengaruh kepercayaan masyarakat dan jauhnya jangkauan para muballig. Walaupun demikian, Islam telah masuk disana pada abad ke-16 M. Banyaknya Sultan Zainal Abidin. Daerah-daerah yang banyak pemeluk Islamnya antara lain Misol, Sulawati, Waigeo, dan pulau Gebi.

6.      Perkembangan Islam di Nusa Tenggara.
Yang berjasa menyebarkan Islam di kawasan Nusa Tenggara adalah para pedagang Bugis dari Sulawesi Selatan dan pedagang-pedagang dari Jawa. Pengislaman di Nusa Tenggara sangat lancar dan mencapai persentase yang tinggi, terutama di Lombok dan Sumbawa. Bahkan di Sumbawa berhasil didirikan kerajaan Islam yang berpusat di Bima.
Gunung Tambora meletus pada tahun 1815 M, menelan korban yang sangat banyak. Peristiwa ini dimanfaatkan oleh H. Ali seorang Muballig, cendekiawan dan pemimpin muslim Sumbawa untuk menyadarkan penduduk tentang kekuasaan Allah swt. Usaha ini berhasil dengan banyaknya masyarakat yang memeluk Islam. 
C.     ­Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan
Dalam sejarah Islam Nusantara, para ulama penyebar Islam selain mengembangkan ilmu-ilmu keislaman juga tidak pernah mengabaikan aspek kebudayaan wilayah setempat. Bahkan tidak jarang mereka memadukan unsur budaya setempat dengan nilai-nilai Islam sebagaimana yang telah dilakukan oleh Wali Songo. Tentu semangat keilmuan dan penghargaan terhadap budaya seperti inilah yang seharusnya diteladani oleh kaum muslimin Indonesia sekarang ini. Selain Wali Songo, berikut ini akan disebutkan beberapa tokoh islam yang telah mengembangkan ilmu pengetahuan dan kebudayaan di kawasan Nusantara.
1.      Hamzah Fansuri
Hamzah fansuri merupakan salah seorang ulama yang mengajarkan paham tasawuf yang banyak dipengaruhi oleh ajaran Ibnu ’Arabi, Abdul Karim Jili, Husain Manshur al-Hallaj, al-Busthami, Jalaluddin Rumi dan lain-lain. Beliau hidup pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Riayat Syah IV (1589 M – 1604 M). Sultan Iskandar Muda (1607 M – 1636 M) dan Sultan Iskandar Tsani (1636 M – 1641 M)
Hamzah Fansuri juga telah mengembangkan ajaran-ajaran sufinya berdasarkan pengalaman rohaninya sendiri selain merujuk pada ajaran beberapa tokoh sufi yang disebutkan di atas. Pengalaman ini kemudian dirumuskan dalam karya-karya sastranya yang lebih mudah diterima oleh masyarakat. Beberapa karya sastra ulama asal Aceh ini penuh Dengan nuansa keagamaan, seperti Syair si burung pingai. Beliau dapat dikategorikan sebagai pelopor sastra sufi Melayu klasik di tanah Sumatra. dipadukan dengan sastra Persia (ruba’i) yang penuh dengan nilai-nilai religi.
Disamping itu, Hamzah Fansuri telah memolopori risalah tasawuf dan keagamaan lain dengan menggunakan kaidah ilmiah yang disusun secara sistematis. Beliau juga mengembangkan pengetahuan filsafat dan mistik dengan pendekatan Islam. Kedalaman makna syair-syair melebihi karya-karya sastrawan lain, baik yang satu angkatan denannya maupun sesudahnya.  
2.        Syamsuddin Sumatrani
                   Beliau merupakan salah satu terkemuka yang berpengaruh serta berperan besar dalam sejarah pengembangan intelektualitas Islam di Aceh pada kisar abad ke-17. Pada masa pemerintahan Sayyid Mukammil (1589 – 1604), Syamsuddin Suamtrani sudah menjadi orang kepercayaan Sultan Aceh. Beliau merupakan murid dari Hamzah Fansuri. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya karya tulis syamsuddin Sumantrani yang merupakan ulasan (syarah) terhadap ajaran Hamzah Fansuri. Karya tulis tersebut adalah Syarah Ruba’i Hamzah Fansuri
                   Adapun karya tulis yang lain, baik yang berbahasa Arab maupun Melayu adalah Jambarul Haqa’iq yang terdiri dari 30 halaman dengan menggunakan bahasa Arab. Kitab ini membahas tentang martabat tujuh dan jalan mendekatkan diri kepada Tuhan. Kitab Mir’atul Mu’mini karya yang terdiri dari 70 halaman dengan menggunakan bahasa Melayu. Karya ini menjelaskan ajaran keimanan kepada Allah para rasulnya, kitab-Nya, pra malaikat-Nya, hari akhirat, dan qada’-qadar-Nya karya ini membicarakan butir-butir akidah yang sejalan dengan paham Ablus sunan wal jama’ah     
3.        Nuruddin ar – Raniri
                   Nuruddin ar-Raniri dikenal sebagai seorang ulama dan penulis produktif. Beliau menulis tidak kurang dari 26 buku. Karya-karya tersebut meliputi berbagai cabang ilmu agama, mulai dari tasawuf, ilmu kalam, fikih, hadis, sejarah, perbandingan agama dan sebagainya. Disamping itu, ar – Raniri juga merupakan salah satu ulama yang berjasa menyebarluaskan bahasa Melayu di Kawasan Asia Tenggara. Karya – karyanya banyak ditulis dalam bahasa Melayu, sehingga menjadikannya sebagai bahasa Islam kedua setelah bahasa Arab. Bahkan, ketika itu cara yang paling mudah untuk memahami ajaran agama Islam adalah dengan menguasai bahasa Melayu. Hubungan yang harmonis antara ar-Raniri dengan Sultan Isakndar ats-Tsani memberi peluang besar bagi pengembangan ajaran dan paham yang dibawahnya. Peluang ini makin nyata setelah diangkat menjadi multi kerajaan Aceh.
4.      Yusuf al-Makasari
Beliau merupakan salah satu kerabat dari kerajaan Gowa. Pada tahun 1644, dia belajar ke Mekah. Sebelum berangkat ke Mekah, dia singgah di Banten kemudian ke Aceh untuk belajar dengan Nuruddin ar-Raniri
Pada tahun 1667, Yusuf al-Makasari kembali ke Nusantara setelah mengembara selama 22 tahun untuk belajar agama, baik ke Mekah maupun Yaman. Setelah kembali ke tanah air, Yusuf al-Makasari langsung melancarkan gerakan pembaharuan yang bertujuan untuk memurnikan Islam dari sisa-sisa paganisme dan kepercayaan-kepercayaan yang tidak Islami. Melalui karya tulisnya, beliau menyebarkan gagasan-gagasan tentang Islam yang murni dan lebih berorientasi pada syari’at
5.      ’Abdur Ra’uf Singkel.
’Abdurra’uf Singkel termasuk ulama yang produktif dalam menuliskan karyanya. Karya-karyanya dijadikan referensi agama oleh kaum muslimin dibawah Asia Tenggara. Ada sekitar 12 karya yang telah beliau tulis. Karya tersebut ada yang berbahasa Melayu maupun bahasa Arab. Sebagian besar karya tulisnya berkaitan dengan masalah fikih dan tasawuf. semua tulisannya yang berbahasa Melayu diorientasikan pada kondisi Melayu dan disusun pada tingkat yang sesuai dengan kondisi murid-muridnya. Dengan demikian, mereka dapat memahami Islam secara lebih baik. Sejauh menyangkut tulisannya tentang tasawuf, ’Abdurra’uf Singkel senantiasa menjelaskan bahwa wajib bagi para sufi untuk menempuh jalur syari’at
Bila diperhatikan dari seluruh kehidupan para ulama terdahulu, dapat diketahui bahwa mereka merupakan orang – orang yang rajin menuntut ilmu, bahkan hingga ke luar negeri. setelah mereka memperoleh ilmu pengetahuan yang cukup, mereka segera mengajarkannya kepada orang lain yang belum mengetahuinya. Selain berdakwah secara lisan, mereka juga memiliki keahlian dalam menyebarkan ilmu-ilmunya melalui karya tulis. Disamping itu, ketika mereka dipercaya menduduki jabatan penting, mereka tetap gigih menjalankan tugasnya untuk berdakwah. Semangat inilah yang seharusnya diwarisi oleh generasi muslim dewasa ini.   

6.        Syech Arsyad Al-Banjari, Syech Nawawi Al-Bantani,

----- - oooo000oooo------


Tugas :
            1. Tugas Individu
                - Bercerita di depan kelas kisah para Pendakwah Islam di tanah air Indonesia.
            2. Tugas Kelompok
- Biografi Ulama Indonesia yang karyanya mendunia.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar