Senin, 10 Agustus 2015

Materi PAI Kelas XII SMK Negeri Kalibaru



Ringkasan Materi pembelajaran
Materi 1


إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآَيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ (190) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (191)


Artinya : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” (Q.S Ali Imran :190-191)

A.    Kandungan Q.S Ali Imran :190-191

Dalam ayat 190 menjelaskan bahwa sesungguhnya dalam tatanan langit dan bumi serta keindahan perkiraan dan keajaiban ciptaan-Nya juga dalam silih bergantinya siang dan malam secara teratur sepanjang tahun yang dapat kita rasakan langsung pengaruhnya pada tubuh kita dan cara berpikir kita karena pengaruh panas matahari, dinginnya malam, dan pengaruhnya yang ada pada dunia flora dan fauna merupakan tanda dan bukti yang menunjukkan keesaan Allah, kesempurnaan pengetahuan dan kekuasaan-Nya.
Langit dan bumi dijadikan oleh Al-Khaliq tersusun dengan sangat tertib.Bukan hanya semata dijadikan, tetapi setiap saat nampak hidup.Semua bergerak menurut aturan.
Silih bergantinya malam dan siang, besar pengaruhnya atas hidup kita dan segala yang bernyawa.Kadang-kadang malam terasa panjang dan sebaliknya.Musim pun silih berganti.Musim dingin, panas, gugur, dan semi.Demikian juga hujan dan panas.Semua ini menjadi tanda-tanda kebesaran dan keagungan Allah bagi orang yang berpikir.Bahwa tidaklah semuanya terjadi dengan sendirinya.Pasti ada yang menciptakan yaitu Allah SWT.
Diriwayatkan dari 'Aisyah ra, bahwa Rasulullah saw berkata: "Wahai 'Aisyah apakah engkau mengizinkankanda pada malam ini untuk beribadah kepada Allah SWT sepenuhnya?". Jawab Aisyah ra: " wahai Rasulullah, Sesungguhnya saya menyenangi apa yang kanda senangi, menyukai apa yang kanda sukai.Dinda izinkan kanda melakukannya.”Kemudian nabi mengambil qirbah (tempat air yang terbuat dari kulit domba) yang terletak didalam rumah, lalu berwudlu.Selanjutnya beliau mengerjakan shalat.Di waktu salat beliau menangis sampai-sampai air matanya membasahi kainnya, karena merenungkan ayat Alquran yang dibacanya.Setelah salat beliau duduk memuji-muji Allah dan kembali menangis tersedu-sedu.Kemudian beliau mengangkat kedua belah tangannya berdoa dan menangis lagi dan air matanya membasahi tanah.Kemudian datanglah Bilal untuk azan subuh dan melihat Nabi saw menangis ia bertanya: "Wahai Rasulullah! Mengapakah Rasulullah menangis, padahal Allah telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang terdahulu maupun yang akan datang". Nabi menjawab: "Apakah saya ini bukan seorang hamba yang pantas dan layak bersyukur kepada Allah SWT? Dan bagaimana saya tidak menangis?Pada malam ini Allah SWT telah menurunkan ayat kepadaku.Selanjutnya beliau berkata: "Alangkah rugi dan celakanya orang-orang yang membaca ini dan tidak memikir dan merenungkan kandungan artinya".
Pada ayat 191 mendefinisikan orang-orang yang mendalam pemahamannya dan berpikir tajam (Ulul Albab), yaitu orang yang berakal, orang-orang yang mau menggunakan pikirannya, mengambil faedah, hidayah, dan menggambarkan keagungan Allah.Ia selalu mengingat Allah (berdzikir) di setiap waktu dan keadaan, baik di waktu ia beridiri, duduk atau berbaring. Jadi dijelaskan dalam ayat ini bahwa ulul albab yaitu orang-orang baik lelaki maupun perempuan yang terus menerus mengingat Allah dengan ucapan atau hati dalam seluruh situasi dan kondisi.
Dari keterangan diatas dapat diketahui bahwa objek dzikir adalah Allah, sedangkan objek pikir adalah makhluk-makhluk Allah berupa fenomena alam.Ini berarti pengenalan kepada Allah lebih banyak didasarkan kepada kalbu, Sedang pengenalan alam raya oleh penggunaan akal, yakni berpikir. Akal memiliki kebebasan seluas-luasnya untuk memikirkan fenomena alam, tetapi ia memiliki keterbatasan dalam memikirkan Dzat Allah, karena itu dapat dipahami sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim melalui Ibn ‘Abbas,
تفكرافى اخلق ولاتتفكروافى اخا لق
Artinya : Pikirkan dan renungkanlah segala sesuatu yang mengenai makhluk Allah jangan sekali-kali kamu memikirkan dan merenungkan tentang zat dan hakikat Penciptanya, karena bagaimanapun juga kamu tidak akan sampai dan tidak akan dapat mencapai hakikat Zat Nya.”


Orang-orang yang berdzikir lagi berfikir mengatakan: "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan makhluk ini semua, yaitu langit dan bumi serta segala isinya dengan sia-sia, tidak mempunyai hikmah yang mendalam dan tujuan yang tertentu yang akan membahagiakan kami di dunia dan di akhirat, sebagaimana disebar luaskan oleh sementara orang-orang yang ingin melihat dan menyaksikan akidah dan tauhid kaum muslimin runtuh dan hancur. Maha Suci Engkau Ya Allah dari segala sangkaan yang bukan bukan yang ditujukan kepada Engkau. Karenanya, maka peliharalah kami dari siksa api neraka yang telah disediakan bagi orang-rang yang tidak beriman. Ucapan ini adalah lanjutan perasaan sesudah dzikir dan pikir, yaitu tawakkal dan ridha, berserah dan mengakui kelemahan diri.Sebab itu bertambah tinggi ilmu seseorang, seyogyanya bertambah pula dia mengingat Allah.Sebagai tanda pengakuan atas kelemahan diri itu, dihadapan kebesaran Tuhan.
Pada ujung ayat ini ( “Maha suci Engkau ! maka peliharalah kiranya kami dari azab neraka” ) kita memohon ampun kepada Tuhan dan memohon agar dihindarkan dari siksa neraka dengan upaya dan kekuatan-Mu serta mudahkanlah kami dalam melakukan amal yang diridhai Engkau juga lindungilah kami dari azab-Mu yang pedih

B.     Kandungan Hukum
Pada QS. Ali-Imran ayat 190-191 di dalamnya memiliki kandungan hukum  yaitu Allah mewajibkan kepada umatnya untuk menuntu ilmu dan memerintahkan untuk mempergunakan pikiran kita untuk merenungkan alam, langit dan bumi (yakni memahami ketetapan-ketetapan yang menunjukkan kepada kebesaran Al-Khaliq, pengetahuan) serta pergantian siang dan malam. Yang demkian ini menjadi tanda-tanda bagi orang yang berpikir, bahwa semua ini tidaklah terjadi dengan sendirinya. Kemudian dari hasil berpikir tersebut, manusia hendaknya merenungkan dan menganalisa semua yang ada di alam semesta ini, sehingga akan tercipta ilmu pengetahuan.
C.    Aspek Tarbawi
Dari ayat di atas dapat diambil aspek tarbawinya yaitu sebagai berikut :
1.      Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim.
2.      Akal manusia hendaknya digunakan untuk memikirkan, menganalisa, dan menafsirkan segala ciptaan Allah.
3.      Dalam belajar tidak diperbolehkan memikirkan Dzat Allah, karena manusia mempunyai keterbatasan dalam hal tersebut dan dikhawatirkan akan terjerumus dalam berpikir yang tidak  sesuai.
4.      Jika seseorang memiliki renungan, ia memiliki pelajaran dalam segala perkara.
5.      Hendaknya manusia mempercayai bahwa semua penciptaan Alah tidak ada yang sia-sia.
D.    Kesimpulan
          Ulul Albab adalah orang-orang yang tidak melalaikan Allah dalam setiap waktu.Mereka merasa tenang dengan mengingat Allah dan tenggelam dalam kesibukan mengoreksi diri secara sadar bahwa Allah selalu mengawasi mereka.
          Bahwasanya keberuntungan dan keselamatan hanya bisa dicapai melalui mengingat Allah dan memikirkan makhluk-Nya dari segi yang menunjukkan adanya sang pencipta.
          Seorang mukmin yang mau menggunakan akal pikirannya, maka akan luas pengetahunnya tentang alam semesta yang menghubungkan antara manusia dan Tuhan.

Materi  2



IMAN KEPADA HARI AKHIR


A.    Hari Qiyamat
Iman kepada Hari Qiyamat ( Hari Akhir ) adalah meyakini dengan se-penuh hati bahwa setelah kehidupan di dunia ini nanti akan ada kehidupan lagi, yaitu kehidupan akhirat yang kekal abadi, sebagai tempat menerima balasan atas amal perbuatan manusia sewaktu di dunia.
(#qà)¨?$#u   $YBöqtƒ šcqãèy_öè? ÏmŠÏù n<Î) «!$# ( §NèO 4¯ûuqè? @ä. <§øÿtR $¨B ôMt6|¡Ÿ2 öNèdur Ÿw tbqãKn=ôàム 
2(281). “dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. kemudian masing-masing diri diberi Balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)”.

Istilah Hari Qiyamat ada dua macam pengertian, yaitu : Qiyamat Sughro dan Qiyamat Kubro.

      1). Qiyamat Sughro
Qiyamat Sughro yaitu qiyamat yang pasti dialami masing-masing individu yaitu kematian, batas akhir kehidupan di dunia bagi setiap manu-sia.
@ä. <§øÿtR èps)ͬ!#sŒ ÏNöqpRùQ$# 3 $yJ¯RÎ)ur šcöq©ùuqè? öNà2uqã_é& tPöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# ( `yJsù yyÌômã Ç`tã Í$¨Y9$# Ÿ@Åz÷Šé&ur sp¨Yyfø9$# ôs)sù y$sù 3 $tBur äo4quŠyÛø9$# !$u÷R$!$# žwÎ) ßì»tFtB Írãäóø9$# ÇÊÑÎÈ  
3(185). “tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
ôNuä!%y`ur äotõ3y ÏNöqyJø9$# Èd,ptø:$$Î/ ( y7Ï9ºsŒ $tB |MYä. çm÷ZÏB ßÏtrB ÇÊÒÈ  
50(19). dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.

Datangnya kematian bagi setiap orang tidak sama, ada yang dikala masih bayi, ketika remaja atau Pada waktu keluarnya ruh ketika dicabut oleh malaikat Izroil dari tubuh, maka manusia akan merasakan sakit yang luar biasa,itulah yang disebut sakrotul maut. Batas kesempatan taubat seseorang adalah disaat sebelum ruh sampai di tenggorokan.
Bila manusia di saat sakrotul maut ini masih beriman, maka ia mati dengan khusnul khotimah yaitu akhir kehidupan yang baik ( sukses ). Sebaliknya bila manusia mati tanpa berbekal iman, kafir atau bunuh diri, maka ia mati su’ul khotimah yaitu akhir kehidupan yang jelek. Naudzu billahi min dzalik !
Meninggal dunia dengan khusnul khotimah itulah kesuksesan yang sejati,ia meninggal dengan wajah berseri, surga sudah diperlihatkan lebih dulu, iman, amal dan ilmu yang menyertainya. Ridlo Allah pasti didapat-kanya. Tetapi bila meninggal dengan su’ul khotimah,maka penderitaan dan siksa menantikannya, neraka sudah diperlihatkan, nampak ketakutan di wajahnya, murka Allah ada di hadapannya adalah penyesalan yang luar biasa.

      2).  Alam Qubur ( Barzah )
Tempat penampungan sementara manusia sesudah mati adalah di alam qubur atau Barzah. Barzah artinya dinding atau pemisah, maksudnya yang memisahkan kehidupan dunia dan akhirat. Juga disebut alam penantian, disitulah manusia menanti kedatangan hari qiyamat sampai ia dibangkitkan.
dewasa, kita harus siap untuk menyambut-nya. Kedatangnya tidak dapat dipercepat atau ditundaserta dirahasiakan.
Ketika manusia masuk alam kubur, maka akan ditanya oleh maikat Munkar dan Nakir (منكر ونكير) , tenyang identitas dirinya dengan pertanyaan: “Siapa Tuhanmu ? Apa agamamu ? Siapa nabimu ? Dan bagaimana i’tiqodmu ?” Jawabnya adalah : “ Allah adalah Tuhanku, Islam adalah agamaku, Muhammad adalah nabiku, Kitab Al-Qur’an adalah tuntunanku, Ka’bah adalah kiblatku,Sholat lima waktu adalah kewajibanku, semua orang Islam adalah saudaraku,Nabi Ibrohim persasat ( seolah-olah ) bapakku, hidup dan matiku berpegang teguh dengan ucapan La ilaha illallah Muhammadur rosulullah.
Bila ia dapat menjawab demikian, maka akan selamat dari murka kedua malaikat tersebut dan selanjutnya akan mendapat ni’mat alam kubur sampai datangnya hari qiyamat, akan tetapi bila tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut maka kedua malaikat tadi akan menyiksanya terus menerus sampai datangnya hari Qiyamat,serta penyesalan untuk selama-lamanya.

Sabda Nabi Muhammad saw :
اِنَّ الْقَبْرَ اَوَّلُ مَنَا زَلِ الأخرةِ فان نجا منه فما بعده ايسر منه وان لم ينج منه فما  بعده اشد منه # الحديث    
“sesungguhnya alam kubur adalah tahapan pertama alam akhirat. Bila mana seseorang telah selamat daripadanya, maka tahap berikutnya akan lebih ringan, tetapa bila tidak selamat di alam kubur,maka tahap berikutnya akan lebih dahsyat.” Al-Hadits Riwayat turmudzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim.

3).  Qiyamat Kubro
Qiyamat Kubro adalah kehancuran total seluruh alam ini, dimana kemudian bumi dan langit diganti.
وَيَوْمَ نُسَيِّرُ الْجِبَالَ وَتَرَى الْأَرْضَ بَارِزَةً وَحَشَرْنَاهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَدًا
18(47). dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan dapat melihat bumi itu datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak Kami tinggalkan seorangpun dari mereka.
y7tRqè=t«ó¡our Ç`tã ÉA$t7Ågø:$# ö@à)sù $ygàÿÅ¡Ytƒ În1u $Zÿó¡nS ÇÊÉÎÈ   $ydâxuŠsù %Yæ$s% $Zÿ|Áøÿ|¹ ÇÊÉÏÈ   žw 3ts? $pkŽÏù %[`uqÏã Iwur $\FøBr& ÇÊÉÐÈ  
20(105).dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, Maka Katakanlah: "Tuhanku akan menghancurkannya (di hari kiamat) sehancur-hancurnya,
106. Maka Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu datar sama sekali,
107. tidak ada sedikitpun kamu Lihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi-tinggi.
tPöqtƒ ãA£t7è? ÞÚöF{$# uŽöxî ÇÚöF{$# ßNºuq»yJ¡¡9$#ur ( (#rãtt/ur ¬! ÏÏnºuqø9$# Í$£gs)ø9$#  
14(48). (yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan meraka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.

Adapun nama lain dari hari qiyamat yaitu nama yang menggambarkan suasana dan keadaan yang terjadi pada saat hari qiyamat banyak sekali diantaranya :
1.  Yaumul Akhir            :  Hari Akhir                                        QS. 2( 62 )
2.  Yaumul Hisab            :  Hari Perhitungan                               QS. 40( 27 )
3.  Yaumul Ba’ts             :  Hari Kebangkitan                              QS. 39( 56 )
4.  Yaumul Hasroh         :  Hari Penyesalan                                QS. 19( 39 )
5.  Yaumul Taghobun     :  Hari Terbukanya Aib                        QS. 64( 9 )
6.  Al-Haqqoh                 :  Kebenaran Besar                              QS. 64 ( 1 )
      7.  Al-Waqi’ah                :  Peristiwa Besar                                 QS. 56( 1 )
8.  Al-Qori’ah                 :  Bencana Yang Menggetarkan          QS. 101( 1 )
9.  Al-Ghosyiyah            :  Bencana Yang Tak Tertahankan       QS. 88 ( 1 )
10.Ath-Thommah           :  Bencana Yang Melanda                    QS. 79 ( 34 )

4. Tanda-tanda Qiyamat
Tentang kapan terjadinya qiyamat hanya Allah yang mengetahuinya QS.31(34),7(187), sedang tanda-tanda telah dekatnya ada beberapa hadits yang menerangkan :
a).  Tanda-tanda kecil :
1.   Kemaksiatan merajalela ( zina, minum, riba )
2.      Banyak penjahat memimpin orang baik
3.      Banyak kemewahan diluar batas
4.      Banyak orang mengaku nabi / menerima wahyu
5.      Banyak bencana alam
6.      Fatwa ulama jahat yang menyesatkan
7.      Hilangnya ahli agama
8.      Banyak fitna kepada umat Islam
9.      Terjadi pertempuran besar antara dua golongan
10.  Orang tua( ibu /bapak ) dianggap bawahan oleh putra-putrinya
11.  Bermegah-megahan masjid
12.  Lebih banyak perempan dari pada laki-laki
b)     Tanda-tanda Besar :
1.      Munculnya Imam Mahdi
2.      Turunnya Nabi Isa as.
3.      Munculnya Dajjal
4.      Munculnya Ya’juj Ma’juj  QS.21/96-97
5.      Runtuhnya Ka’bah yang mulia
6.      Terbitnya matahari dari barat
7.      Munculnya Dabbah yaitu hewan melata yang besar dari Ajyad QS.27/82
8.      Hilangnya Al-Qur’an yang tertulis maupun yang dihafal
9.      Angin yang berbau harum
10.  Asap yang memenuhi dunia
11.  Api yang menggiring manusia

5.  Peniupan Sangkakala
Mengenahi peniupan sangkakala oleh malaikat Isrofil terjadi 3 kali, ulama yang lain berpendapat 2 kali,nomor satu di bawah ini dikecualikan :
1).  Peniupan yang mengejutkan QS.27/87
 tPöqtƒur ãxÿZムÎû ÍqÁ9$# tíÌxÿsù `tB Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# `tBur Îû ÇÚöF{$# žwÎ) `tB uä!$x© ª!$# 4 <@ä.ur çnöqs?r& tûï̍ÅzºyŠ ÇÑÐÈ  
87. dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, Maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.

2). Peniupan yang memusnahkan QS. 39/68
yÎû ÏÿçRur ÍqÁ9$# t,Ïè|Ásù `tB Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# `tBur Îû ÇÚöF{$# žwÎ) `tB uä!$x© ª!$# ( §NèO yÏÿçR ÏmŠÏù 3t÷zé& #sŒÎ*sù öNèd ×P$uŠÏ% tbrãÝàZtƒ  
“ dan ditiuplah sangkakala, Maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi Maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).”

3). Peniupan yang membangkitkan dari alam kubur QS. 36/51
yÏÿçRur Îû ÍqÁ9$# #sŒÎ*sù Nèd z`ÏiB Ï^#y÷`F{$# 4n<Î) öNÎgÎn/u šcqè=Å¡Ytƒ ÇÎÊÈ  
“ dan sudah tentu akan ditiupkan sangkakala (menghidupkan orang-orang Yang telah mati; apabila berlaku Yang demikian) maka semuanya segera bangkit keluar dari kubur masing-masing (untuk) mengadap Tuhannya.”

6.. Keadaan dikala terjadi Qiyamat :
1.      Manusia seperti anai-anai yang bertebaran
2.      Gunung-gunung seperti bulu yang berhambur-hamburan
3.      Bumi diguncangkan dengan dahsyatnya
4.      Bumi mengeluarkan beban berat yang dikandungnya
5.      Mata manusia terbelalak ketakutan QS.75/7
6.      Bulan hilang cahayanya QS.75/8
7.      Matahari dan bulan dikumpulkan QS.75/9
8.      Bintang-bintang dihapus QS.77/8
9.      Langit terbelah QS.77/9
10.  Gunung hancur jadi debu QS.77/10
11.  Wanita menyusui lupa akan anaknya
12.  Wanita hamil mengeluarkan kandungannya
13.  Manusia kelihatan seperti mabuk

B. Peristiwa-peristiwa yang terjadi setelah Qiyamat :
1. Kebangkitan seluruh manusia dari alam qubur QS.16/38
Sesudah seluruh tubuh lenyap, Allah kembalikan seperti seperti semula dengan keadaan yang lebih baik atau lebih buruk ada muka yang putih berseri dan ada pula muka yang hitam muram  QS.3/106. Mereka keluar dari alam kubur seperti belalang yang berhamburan, sambil menundukkan pandangan QS.54/6,8. Dan mereka semua dalam keadaan telanjang ( Al-Hadits ).

2. Berkumpul di padang mahsyar
Kemudian Allah mengumpulkan seluruh manusia di padang Mahsyar dan tidak ada seorangpun yang ketinggalan QS.18/47. Kemudian terbagi menjadi tiga golongan yaitu golongan kanan ( yang dimuliakan ), golongan kiri ( yang sengsara ), dan golongan orang yang paling dahulu beriman QS.56/7-9, pada hari itu manusia menuju kepada suara penyeru ( malaikat yang memanggil-manggil untuk datang ke hadirat Allah swt.) dengan tidak berbelok-belok QS.20/108. Ada yang berjalan dengan kakinya dan ada yang berjalan dengan mukanya dengan cara diseret sebab mereka buta, bisu,dan pekak QS.17/97. Allah memanggil setiap umat dengan pemimpinnya masing-masing. QS.17/71
Mereka datang bergegas memenuhi panggilan dengan kepala diangkat, sedang mata mereka kosong QS.14/42-43. Orang-orang dholim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak pula mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya QS.40/18. Di hari itu manusia menghadap Tuhan semesta alam dalam keadaan mengharap dan takut serta berkeringat dengan sangat sehingga menggenangi bumi tujuh hasta dan mereka tenggelam dalam keringat itu hingga telinga mereka ( Al-Hadits ).

3. Pemberian buku cacatan dan hisab
Semua manusia berada dihadapan Tuhan dengan berbaris QS.18/48. Dan Allah memberi buku catatan amal setiap manusia dalam keadaan terbuka (kemudian Allah berfirman) :
“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisap terhadapmu “QS.17/13-14. Dan didatangkan para Nabi dan saksi-saksi QS.39/39.
Kitab tersebut ada yang diberikan dari sebelah kanannya, merekalah kelak akan dihisab dengan mudah dan kembali kepada keluarganya ( yang seiman ) dengan gembira QS.84/7-9.
Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, Maka Dia berkata: "Wahai Alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku.QS.69/25-26.
Dan ada pula yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak : “ Celakalah aku “. Dan dia akan masuk neraka sair ( yang menyala-nyala ). QS.84/10-12
Allah akan menanyakan kepada mereka semua tentang apa yang mereka kerjakan, QS. 15/92-93, walaupun mereka telah melupakannya .QS.58/6. Pertanyaan tersebut meliputi empat perkara yaitu tentang umur untuk apa dihabiskan, tentang ilmu mana yang telah diamalkan, tentang harta dari mana didapatkan dan untuk apa dibelanjakan dan tentang anggota badan untuk apa dipergunakan, HR. Turmudzi ).
Permulaan perkara yang dihisab (diperhitungkan) adalah sholat (HR. Turmudzi).
Perkara yang mula-mula diselesaikan antara manusia adalah urusan darah (HR. An-Nasai).
Dalam beberapa hadits dijelaskan bahwa ada segolongan dari umat Islam yang masuk surga tanpa melalui hisab terlebih dahulu.

4. Syafa’at
Salah satu dari keyakinan yang berhubungan dengan iman kepada hari akhir adalah bahwasanya Nabi Muhammad saw. di akhirat nanti akan memberi syafa’at kepada umatnya dengan seizin Allah swt.
3 `tB #sŒ Ï%©!$# ßìxÿô±o ÿ¼çnyYÏã žwÎ) ¾ÏmÏRøŒÎ*Î/
“Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? “QS.2/255
Nabi Muhammad saw. bersabda :  اِنَّمَا اَنَا اَوَّّلُ شَافِعِ وَ اَوّلُ مُشَفَّعٍ
“Saya permulaan orang yang memberi syafa’at dan yang diterima syafa’atnya”. (HR.Muslim)
Pendapat golongan Ahli Sunnah dan selainnya : Bahwa Nabi Muhammad saw. lah yang memberi syafa’at, yakni yang senantiasa memohon kepada Allah agar melepaskan urusan hisab, itulah yang dinamakan Syafa’at Kubro (pertolongan yang besar), selain itu ada syafa’at untuk mereka yang semestinya masuk nereka, tidak jadi masuk neraka, dan juga yang telah masuk neraka bisa keluar dari neraka dengan adanya syafa’at.
Syafa’at Nabi Muhammad saw.ini bisa diperoleh dengan banyak membaca sholawat kepada beliau sebagamana sabdanya :
إنَّ أنْجَاكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ اَهْوَالِهَا وَ مَوَاطِنِهَا أَكْثَرَكُمْ عَلَيَّ صَلاَةً # شفاءشريف  yang paling selamat di antara kamu dari adzab dan kesengsaraan hari qiyamat ialah yang terbanyak sholawat untukku” (Syifaau Syariif)

5. Haudl (telaga)
Setiap seorang nabi itu mempunyai sebuah telaga (danau) yang akan dijadikan tempat minumnya sendiri beserta sekalian umatnya, yakni setelah selesai berhenti di padang mahsyar dan sebelum masuk ke dalam surga.
Junjungan kita Nabi Muhammad saw. juga mempunyai sebuah telaga yang bernama Kautsar. Warna airnya lebih putih dari susu, rasanya lebih manis dari madu dan baunya lebih harum dari kasturi. Barangsiapa yang meminum airnya tidak akan haus selamanya.
Diceritakan dari Sahai bin Sa’d bahwasanya Rosulullah saw bersabda:
أنَا فَرَطُكٌم عَلَىالْحَوْضِ مَن مَرَّْعلَيَّ شَرِبَ وَ مَنْ شَرِبَ لاَ يَظْمَأُ أَبَذًَا  لَيَرِدَ نَّ عَلَيَّ اَقْوَامٌ، أَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُوْنَنِي ثُمَّ يُحَالُ بَيْنِى وَبَيْنَهُمْ فَاَقُوْلُ : إنَّهُمْ مِنِّى، فَيُقَالُ : لا تَدْرِى مَا أَحَدَثُوْا بَعْدَكَ، فَأَقُوْلُ سُحْقًا، سُحْقًا لِمَنْ غَيَّرَ بَعْدِى # رَوَا ه البخارى و مسلم
“ Saya adalah orang yang pertama sekali datang di telaga itu. Barangsiapa yang berjalan melalui jalanku, pasti dapat minum dan barangsiapa yang sudah minum, pasti tidak akan haus selama-lamanya. Niscayalah nanti itu akan ada segolongan dari kaum yang datang kepadaku, saya sudah kenal mereka dan mereka sudah kenal saya, tetapi tiba-tiba ditutuplah pandang antara saya dengan mereka itu. Saya lalu berseru : Orang-orang itu  adalah golonganku (yakni termasuk umatku) “. Tetapi lalu diberitahukan kepadaku : “Engkau tidak mengetahui apa yang mereka adakan sepeninggalmu “. Sayapun lalu berkata : “Celaka, celaka sekalian orang yang mengadakan perubahan sepeninggalku !”.HR.Al-Bukhori dan Muslim

6. Mizan
Selain amal perbuatan manusia diperhitungkan (diminta pertanggung jawabannya / ditanya satu persatu)  dicocokan dengan buku catatan amalnya, maka kemudian amal perbuatan manusia itu ditimbang dengan timbang yang disebut mizan. Firman Allah swt.:
ßìŸÒtRur tûïκuqyJø9$# xÝó¡É)ø9$# ÏQöquÏ9 ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# Ÿxsù ãNn=ôàè? Ó§øÿtR $\«øx© ( bÎ)ur šc%Ÿ2 tA$s)÷WÏB 7p¬6ym ô`ÏiB @AyŠöyz $oY÷s?r& $pkÍ5       3 4s"x.ur $oYÎ/ šúüÎ7Å¡»ym ÇÍÐÈ  
21/47. Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, Maka Tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan.
ãbøuqø9$#ur >Í´tBöqtƒ ,ysø9$# 4 `yJsù ôMn=à)rO ¼çmãZƒÎºuqtB šÍ´¯»s9'ré'sù ãNèd tbqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÑÈ   ô`tBur ôM¤ÿyz ¼çmãYƒÎºuqtB y7Í´¯»s9'ré'sù tûïÏ%©!$# (#ÿrãÅ¡yz Nåk|¦àÿRr& $yJÎ/ (#qçR%x. $uZÏG»tƒ$t«Î/ tbqßJÎ=ôàtƒ ÇÒÈ  
8. timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), Maka Barangsiapa berat timbangan kebaikannya, Maka mereka Itulah orang-orang yang beruntung.
9. dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, Maka Itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat kami.

Perlu diketahui bahwa baik pelaksanaan hisab maupun penimbangan amal dilaksanakan satu persatu sehingga terjadi antrean panjang yang lama dan melelahkan.

7. Shirot (Jembatan)
Setelah selesai melaksanakan penimbangan amal, manusia digiring menuju jembatan (Shirot), yang dibawahnya adalah nereka jahannam. Barangsiapa selamat melaluinya, maka sampailan ia ke surga. Dan barangsiapa tidak bisa meniti jembatan, maka jatuhlah ia ke nereka jahannam. Rosulullah saw. bersabda :
“Kemudian dipasanglah sebuah jembatan di atas punggung dua tepi jahannam. Maka aku (Muhammad saw.) dan umatkulah yang mula-mula melintasinya. Tak ada seorangpun yang berani berbicara pada hari itu kecuali para rosul, sedang ucapan para rosul saat itu hanyalah : Allahumma sallim (Ya Allah selamatkanlah). Di nereka jahannam itu ada beberapa pengait seperti duri pohon sa’dan. Hanya saja tidak ada yang tahu seberapa duri itu kecuali Allah swt. Pengait-pengait inilah yang akan menyambar orang yang melewati sesuai dengan amal perbuatannya  sendiri ketika di dunia”. HR. Muslim.


8. Neraka و النار)  )       
               Neraka bahasa Arabnya An-Naar artinya api adalah tempat di alam akhirat  berupa telaga api yang bergejolak yang disediakan untuk menyiksa dan membalas orang-orang yang berbuat dosa dan kesalahan yang tidak mendapat ampunan Tuhan.

Abu Huroiroh ra. menyatakan, Muhammad Rosulullah saw.bersabda,” Api yang biasa kalian nyalakan merupakan sabagian dari tujuh puluh bagian panasnya neraka jahannam.” Para shohabat menyela,” Ya Rosulullah, demi Allah sungguh api di dunia ini benar-benar sudah cukup panas.” Muhammad Rosulullah saw.menegaskan “ Tetapi sungguh api neraka jahannam enam puluh sembilan kali lebih panas dibandingkan api dunia, yang masing-masing bagian sama panasnya dengan api di dunia.”(HR. Bukhori,Muslim, dan Tumudzi)

Abu Sa’id ra.menyatakan, Muhammad Rosulullah saw.bersabda,”Sungguh tinggi gejorak api neraka itu empat tembok yang tebal-tebal. Tinggi masing-masing tembok seperti perjalanan empat pukuh tahun”. (HR. Turmudzi)

   Abu Huroiroh menceritakan, bahwa ketika ia dan beberapa sahabatnya bersama Nabi saw.terdengarlah suara gemuruh yang kuat. Lalu bertanyalah Rosulullah saw.kepada para sahabat,” Tahukah kalian, suara apakah itu ?” Para sahabat menjawab,” Hanya Allah dan Rosul-Nya yang mengetahuinya.” Muhammad Rosulullah saw.bersabda,”Itu adalah suara batu besar yang dilemparkan ke dalam neraka sejak tujuh puluh tahun yang silam.”(HR. Muslim)

   Adapun neraka macamnya ada 7, yaitu :
1.Jahannam   2. Sa’ir    3.  Hawiyah   4.  Saqor    5.  Jahim    6.  Huthomah 7.  Ladlo
Penghuni tujuh macam neraka tersebut juga sesuai dengan derajat dosanya.

9 .  Surga ( ( الجـنة
Surga adalah tempat untuk membalas orang-orang yang berbuat kebajikan. Adapun macamnya ada 8, yaitu :
  1. Darul Jalal                4.  Jannatul Khuldi         7.  Jannatul Adn         
  2. Darus Salam             5.  Jannatun Na’im         8.  Darul Qoror
  3. Jannatul Ma’wa        6.  Jannatul Firdaus
        
Delapan macam surga tersebut ditempati manusia sesuai dengan derajat amalnya,
Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat. QS.75/22-23
 Penduduk surga dapat melihat siapa yang berada di neraka melalui gunung al-A’rof

Peringatan Penting  : Tahun 2012 ????
Muhammad bin Ali berkata, “Sesungguhnya,Al-Mahdi yang kita nantikan itu memiliki dua mu’jizat yang belum pernah terjadi semenjak Allah menciptakan langit dan bumi, bulan mengalami gerhana pada malam pertama bulan Romadlon, sedangkan matahari mengalami gerhana pada pertengahan bulan itu, dan kedua hal itu belum pernah terjadi semenjak Allah menciptakan langit dan bumi.”
Rosulullah saw, bersabda, “Pada bulan Romadlon terlihat tanda-tanda di langit, seperti tiang yang bersinar, pada bulan Syawal terjadi malapetaka, pada bulan Dzulqo’dah terjadi kemusnahan, pada bulan Dzulhijjah para jama’ah Haji dirampok, dan pada Muharrom, tahukah apakah Muharrom itu ?
Rosulullah saw, bersabda, “Akan ada suara dahsyat di bulan Romadlon, huru-hara di bulan Syawal, konflik antar suku di bulan Dzulqo’dah, dan pada tahun itu para jama’ah haji dirampok dan terjadi pembantaian besar di Mina dimana banyak orang terbunuh dan darah mengalir di sana, sedangkan pada saat itu mereka berada di Jumroh Aqobah.
Rosulullah saw, juga bersabda, “Bila telah muncul suara di bulan Romadlon, maka akan terjadi huru-hara di bulan Syawal.... “ Kami bertanya:” Suara apakah ya Rosulullah ?” Beliau menjawab:”Suara keras di pertengahan bulan Romadlon, pada malam Jum’at, akan muncul suara keras yang membangunkan orang tidur, menjadikan orang berdiri jatuh terduduk, para gadis keluar dari pingitannya, pada malam Jum’ah di tahun terjadinya banyak gempa. Masuklah kalian ke dalam rumah kalian, tutuplah pintu-pintunya, sumbatlah lubang-lubang (ventilasi)nya, dan selimutilah diri kalian, sumbatlah telinga kalian, Jika kalian merasakan adanya suara menggelegar, maka sujudlah kalian kepada Allah dan ucapkanlah: Subhanal Qudduus, Subhanal Qudduus, Robbunal Qudduus. Karena barang siapa melakukan hal itu akan selamat, tetapi siapa yang tidak melakukan hal itu akan binasa.
      Di ambil dari buku Huru-Hara Akhir Zaman hal 98

Materi 3
IMAN KEPADA QADA DAN QADAR
A.Pengertian iman kepada qada dan qadar
Iman kepada qada dan qadar adalah meyakini dengan sepenuh hati bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam ini dikuasai oleh suatu hukum yang pasti dan tetap yang tidak tunduk kepada kemauan manusia. Segala sesuatu itu meliputi semua kejadian yang menimpa seluruh makhluk hidup, baik berupa hidup atau mati, baik atau buruk,kemunculan atau kemusnahan.

1.Qada
Qada mempunyai beberapa arti yang dapat dilihat dalam ayat-ayat Al-Qur’an berikut.
a.Qada yang berarti hukum atau keputusan terdapat pada surah an-Nisa’ ayat 65.
b.Qada yang berarti mewujudkan atau menjadikan terdapat pada Surah Fussilat ayat 12.
c.Qada yang berarti kehendak terdapat pada Surah Ali ‘Imran ayat 47.
d.Qada yang berarti perintah terdapat pada Surah al-Isra’ ayat 23.

2.Qadar
Qadar juga mempunyai beberapa arti yaitu,
a.Qadar yang berarti mengatur serta menentukan sesuatu menurut batas-batasnya terdapat pada Surah Fussilat ayat 10.
b.Qadar yang berarti ukuran terdapat pada Surah ar-Ra’d ayat 17.
c.Qadar yang berarti ketentuan dan kepastian terdapat pada Surah al-Mursalat ayat 23.
d.Qadar yang berarti kekuasaan dan kemampuan terdapat pada Surah al-Baqarah ayat 236.
e.Qadar yang berarti perwujudan kehendak Allah swt. Terhadap semua makhluk-Nya dalam bentu-bentuk dan batasan-batasan tertentu terdapat pada Surah al-Qamar ayat 49.

3.Hubungan Qada dan Qadar
Qada dan qadar merupakan suatu kesatuan. Qada bersifat qadim ( lebih dahulu ada ), sedangkan qadar bersifat hudus (baru).
Seorang ahli bahasa Al-Qur’an, Iman ar-Raqib, mengatakan bahwa Allah swt. Mentakdirkan segala sesuatu dengan dua macam cara yaitu :
a.Memberiakn qudrah atau kekuatan.
b.Membuat ukuran dan cara-cara tertentu.
Dalam kehidupan sehari-hari, kedua istilah tersebut sering disebut dengan takdir.
Menurut ulama ahlusunah waljamaah, berdasarkan pelakunya, ada dua macam perbuatan di alam semesta ini.
a.Perbuatan yang pertama adalah perbuatan yang dilakukan Allah swt. terhadap makhluk-Nya. Dalam hal ini, tidak ada kekuasaan dan pilihan bagi semua makhluk, kecuali menerimanya.
Contoh : turunnya hujan, tumbuhnya tanaman, kehidupan, kematian, sehat, dan sakit.
b.Perbuatan yang kedua adalah perbuatan yang dilakukan oleh semua makhluk. Semua makhluk melakukan segala perbuatan berdasarkan kehendak dan keinginan yang diberikan Allah swt. kepada mereka. Allah swt. juga memberikan kemampuan dan potensi kepada semua makhluk untuk melaksanakan kehendak dan keinginan mereka.
Sebagai seorang yang beriman, kita harus mengerti segala kejadian yang menimpa diri kita. Hal itu adalah semata-mata kekuasaan Allah swt. Dengan memahaminya, kita akan bisa berlapang dadamenerima segala takdir yang datang dari Allah swt.
Syekh Muhammad Saleh al-Usaimin mengemukakan bahwa takdir itu mempunyai 4 tingkatan :
a.Al-‘ilmu atau pengetahuan adalah mengimani dan meyakini bahwa Allah swt. Maha Mengetahui segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dihadapan-Nya.
b.Al-Kitabah atau penulisan adalah mengimani bahwa Allah swt. telah menuliskan segala ketetapan dalam Lauh Mahfuz yang ada di sisi-Nya. Menurut bahasa, lauh berarti papan catatan dan mahfuz berarti terjaga atau terpelihara. Laul Mahfuz adalah tempat pencatatan ketetapan Allah swt. atas makhluk-Nya yang terpelihara disisi-Nya.
c.Al-Masyi’ah atau kehendak adalah kehendak Allah swt. terhadap segala sesuatu yang yang terjadi atau tidak terjadi, baik di langit maupun di bumi.
d.Al-Khalqu atau penciptaan adalah mengimani Allah swt. sebagai pencipta segala sesuatu serta meyakini bahwa semua yang terjadi dari perbuatan Allah swt. adalah ciptaan Allah swt.

B.Bukti-Bukti Adanya Qada dan Qadar

Bukti qada dan qadar dapat dilihat pada alam ini, termasuk pada manusia. Kapan dan di mana kita dilahirkan kita tidak dapat memilihnya. Kita juga tidak bisa memilih jenis kelamin atau bentuk rupa yang kita inginkan. Semua itu telah ditakdirkan Allah swt. dan manusia tinggal menerimanya saja.
Bukti yang lain adalah ketentuan yang berhunbungan dengan soal mati. Datangnya kematian adalah sebuah misteri dan di luar kekuasaan makhluk. Semua makhluk tinggal menerima saja. Benda-benda di alam ini, seperti matahari, bumi, bulan, bintang-bintang, dan planet-planet. Semua benda itu memiliki takdir yang tidak dapat dilanggarnya. Semua benda-benda langit itu berjalan teratur di angkasa sesuai ketentuan Allah swt. Semua itu disebut dengan sunatullah. Dari semua hal tersebut, semua orang Islam wajib mengimaninya.

C.Sunnatullah

Menurut bahasa, sunnatullah berasal dari kata sunnah yang bersinonim dengan tariqah yang berarti jalan yang dilalui atau sirah yang berarti jalan hidup. Kemudian, kata tersebut digabung dengan lafal Allah sehingga menjadi kata sunatullah yang berarti ketentuan-ketentuan atau hukum Allah swt. yang berlaku atas segenap alam dan berjalan secara tetap dan teratur.

Sunnatullah terdiri dari dua macam, yaitu
1.Sunnatullah qauliyah adalah sunnatullah yang berupa wahyu yang tertulis dalam bentuk lembaran atau dibukukan, yaitu Al-Qur’an.
2.Sunnatullah kauniyyah adalah sunnatullah yang tidak tertulis dan berupa kejadian atau fenomena alam. Contohnya, matahari terbit di ufuk timur dan tenggelam di ufuk barat.
Kedua sunatullah tersebut memiliki persamaan, yaitu
1.Kedua-duanya berasal dari Allah swt.
2.Kedua-duanya dijamin kemutlakannya.
3.Kedua-duanya tidak dapat diubah atau diganti dengan hukum lainnya.
Contohnya adalah hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an. Dalam Al-Qur’an dikatakan bahwa barang siapa yang beriman dan beramal saleh, pasti akan mendapat balasan pahala dari Allah swt. Selain memiliki persamaan, keduanya juga mempunyai perbedaan. Sunatullah yang ada di alam, dapat diukur. Lain halnya dengan sunnatullah yang ada dalam AL-Qur’an. Walaupun hal itu pasti terjadi, tetapi tidak diketahui secara pasti kapan waktunya.
D.Ikhtiar dan Tawakal
Ikhtiar berarti memilih. Menurut istilah, ikhtiar adalah berusaha secara maksimal dalam mencapai tujuan dan hasil, serta bergantung sepenuhnya kepada kehenak Allah swt.
Islam menghendaki agar setiap muslim berusaha sekuat tenaga dengan cara yang halal untuk mengubah nasibnya. Di samping itu, setiap muslim juga harus berusaha mencegah terjadinya suatu bencana atau kegagalan dalam meraih cita-cita.
Terjadi atau tidak terjadinya sesuatu disebabkan oleh dua hal yaitu :
1.Gazirah adalah insting atau bakat pembawaan lahir. Contohnya, perasaan lapar menyebabkan kita makan. Gazirah tidak memberikan kesempatan kepada kita untuk memilih, selain memenuhinya.
2.Ikhtiar adalah usaha secara maksimal sesuai dengan potensi dan kemampuan yang diberikan Allah swt. Contohnya, ketekunan dan keuletan belajar menyebabkan orang memiliki banyak ilmu. Akan tetapi, mutu ilmu pengetahuan dan jumlah kekayaan yang diperoleh itu tergantung pula kepada kekuatan ikhtiar yang diberikan Allah swt.
Tegasnya, yang memberikan kekuatan memilih adalah Allah swt., sedangkan yang memilih adalah manusia. Apabila usaha tersebut hasilnya baik, hal itu tentu saja karena proses usaha yang dilaksanakn juga baik. Demikian sebaliknya, apabila usaha tersebut gagal, hal itu disebabkan proses usaha yang kurang baik.
Tawakal adalah berserah diri kepada Allah swt., berserah diri kepada qada dan qadar Allah swt., terjadi setelah berusaha semaksimal mungkin.
Muenurut Muhammad bin Abdul Wahab, tawakal adalah pekerjaan hati manusia dan pucak tertinggi keimanan. Sifat ini akan datang dengan sendirinya jika iman seseorang sudah matang.
Menurut HAMKA, seseorang disebut beriman apabila belum mencapai puncak tawakal. Tawakal menjadi dasar keimanan semua amal.
Menurut al-Gazali, orang-orang yang bertawakal terbagi menjadi empat bagian yaitu :
1.Orang yang berusaha memperoleh sesuatu yang dapat membawa manfaat kepadanya.
2.Orang yang berusaha memelihara sesuatu yang dimilikinya supaya mendapatkan hal-hal yang bermanfaat.
3.Orang yang merusaha menolak dan menghindarkan diri dari hal-hal yang menimbulkan mudarat atau bencana.
4.Orang yang berusaha menghilangkan mudarat yang menimpa dirinya.
Selanjutnya, al-Gazali menjelaskan bahwa dalam penerapannya tawakal terdiri atas tiga tingkatan, yaitu :
1.Tawakal adalah keadaan hati yang senantiasa tenang dan tentram terhadap apa yang dijanjikan Allah swt.
2.Taslim adalah menyerahkan urusan kepada Allah swt. karena Dia mengetahui segala sesuatu mengenai diri dan keadaannya.
3.Tafhid adalah rida atau rela menerima segala ketentuan Allah swt. bagaimanapun bentuk dan keadaannya.
Berdasarkan al-Qur’an Surah at-Talaq ayat 3, Allah swt. akan mencukupkan segala keperluan orang-orang yang bertawakal dan bila dijabarkan orang yang bertawakal akan :
1.Mendapatkan limpahan sifat ‘aziz atau kehormatan dan kemuliaan.
2.Memiliki keberanian dalam menghadapi musibah atau maut.
3.Menghilangkan keluh kesah dan gelisah, serta mendapatkan ketenangan, ketentraman, dan kegembiraan.
4.Mensyukuri karunia Allah swt. serta memiliki kesabaran apabila belum memperolehnya.
5.Memiliki kepercayaan diri dan keberanian dalam menghadapi setiap persoalan.
6.Mendapatkan pertolongan, perlindungan, serta rezeki yang cukup dari Allah swt.
7.Mendapatkan kepercayaan dari orang banyak karena budi pekertinya yang terpuji dan hidupnya yang bermanfaat bagi orang lain.

E.Fungsi Iman kepada Qada dan Qadar
1.Iman kepada qada dan qadar akan membuat seseorang makin mantap dalam meyakini bahwa Allah swt. adalah Tuhan Yang Maha Esa, Mahakuasa, Maha Berkehendak, Maha Mengetahui, Mahaadil, dan Mahabijaksana.
2.Iman kepada qada dan qadar akan menumbuhkan kesadaran kepada umat manusia bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini berjalan sesuai dengan kebijaksanaan dan ketentuan Allah swt.
3.Iman kepada qada dan qadar akan mendorong manusia untuk melakukan penelitian-penelitian terhadap benda-benda alam dan hukum-hukum Allah swt. yang kemudian dirumuskan dalam berbagai teori ilmu pengetahuan.
4.Iman kepada qada dan qadar akan menumbuhkan sifat terpuji, sabar, bersyukur, bertawakal, raja’, kanaah, optimis, dinamis, inovatif, dan kreatif.
5.Iman kepada qada dan qadar akan menghilangkan sikap tercela, seperti sombong, kufur nikmat, iri hati, dengki, pesimis, dan statis



Materi 4
ihsan





SIKAP DAN PERILAKU SALING MENASEHATI DAN BERBUAT BAIK
( IHSAN DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI )


  1. Pengertian Perilaku Ihsan

Ihsan berasal dari kata حَسُنَ yang artinya adalah berbuat baik, sedangkan bentuk masdarnya adalah اِحْسَانْ, yang artinya kebaikan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur`an mengenai hal ini.\Perilaku Ihsan adalah puncak ibadah dan akhlak yang senantiasa menjadi target seluruh hamba Allah SWT. Sebab, perilaku ihsan menjadikan kita sosok yang mendapatkan kemuliaan dari-Nya.
Sebaliknya, seorang hamba yang tidak mampu mencapai target ini akan kehilangan kesempatan yang sangat mahal untuk menduduki posisi terhormat di mata Allah swt. Rasulullah saw. pun sangat menaruh perhatian akan hal ini, sehingga seluruh ajaran-ajarannya mengarah kepada satu hal, yaitu mencapai ibadah yang sempurna dan akhlak yang mulia.
Syaikh ‘Abdurrahman as Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa ihsan mencakup dua macam, yakni ihsan dalam beribadah kepada Allah dan ihsan dalam menunaikan hak sesama makhluk. Ihsan dalam beribadah kepada Allah maknanya beribadah kepada Allah seolah-olah melihat-Nya atau merasa diawasi oleh-Nya. Sedangkan ihsan dalam hak makhluk adalah dengan menunaikan hak-hak mereka. Ihsan kepada makhluk ini terbagi dua, yaitu yang wajib dan sunnah. Yang hukumnya wajib misalnya berbakti kepada orang tua dan bersikap adil dalam bermuamalah. Sedangkan yang sunnah misalnya memberikan bantuan tenaga atau harta yang melebihi batas kadar kewajiban seseorang. Salah satu bentuk ihsan yang paling utama adalah berbuat baik kepada orang yang berbuat jelek kepada kita, baik dengan ucapan atau perbuatannya.
Oleh karenanya, seorang muslim hendaknya tidak memandang ihsan itu hanya sebatas akhlak yang utama saja, melainkan harus dipandang sebagai bagian dari akidah dan bagian terbesar dari keislamannya. Karena, Islam dibangun di atas tiga landasan utama, yaitu iman, Islam, dan ihsan, seperti yang telah diterangkan oleh Rasulullah saw. dalam haditsnya yang shahih. Hadist ini menceritakan saat Raulullah saw. menjawab pertanyaan Malaikat Jibril —yang menyamar sebagai seorang manusia— mengenai Islam, iman, dan ihsan. Setelah Jibril pergi, Rasulullah saw. bersabda kepada para sahabatnya, “Inilah Jibril yang datang mengajarkan kepada kalian urusan agama kalian.” Beliau menyebut ketiga hal di atas sebagai agama, dan bahkan Allah swt.memerintahkan untuk berbuat ihsan pada banyak tempat dalam Al-Qur`an.

  1. Dalil-dalil yang terdapat perilaku Ihsan

  1. Dalil Naqli
وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Artinya : Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.(QS. Al-Baqarah: 195)
إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآَخِرَةِ لِيَسُوءُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا مَا عَلَوْا تَتْبِيرًا
Artinya : Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.(QS. Al-Isra’: 7)
  1. Dalil Aqli
Rasulullah Saw sebuah haditnya menegaskan: “Kebaikan adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah apa saja yang meragukan jiwamu dan kamu tidak suka memperlihatkannya pada orang lain.” (HR. Muslim)
“Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan adalah apa saja yang menenangkan hati dan jiwamu. Sedangkan dosa adalah apa yang menyebabkan hati bimbang dan cemas meski banyak orang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kebaikan.” (HR. Ahmad, Thabrani, dan Al Baihaqi).

اِنَّ اللهَ كَتَبَ عَلَيْكُمُ اْلِاحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ , فَاِذَا قَتَلْتُمْ فَاَحْسِنُوْ الْقَتْلَةَ وَ اِذَا ذَبَحْتُمْ فَاَحْسِنُوْ الذَّبْحَةَ
Artinya : “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kebaikan pada segala sesuatu, maka jika kamu membunuh, bunuhlah dengan baik, dan jika kamu menyembelih, sembelihlah dengan baik…” (HR. Muslim)

  1. Landasan Syar’i Ihsan

Pertama, Al-Qur`anul Karim
Dalam Al-Qur`an, terdapat 166 ayat yang berbicara tentang ihsan. Dari sini kita dapat menarik satu makna, betapa mulia dan agungnya perilaku dan sifat ini, hingga mendapat porsi yang sangat istimewa dalam Al-Qur`an. Berikut ini beberapa ayat yang menjadi landasan akan hal ini.

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ

Artinya ; Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling. ( QS. Al Baqarah : 83 )
Kedua,  As-Sunnah
Rasulullah saw. pun sangat memberi perhatian terhadap masalah ihsan ini. Sebab, ia merupakan puncak harapan dan perjuangan seorang hamba. Bahkan, diantara hadist-hadist mengenai ihsan tersebut, ada beberapa yang menjadi landasan utama dalam memahami agama ini. Rasulullah saw. menerangkan mengenai ihsan, ketika ia menjawab pertanyaan Malaikat Jibril tentang ihsan dimana jawaban tersebut dibenarkan oleh Jibril, dengan mengatakan : “Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”(HR. Muslim)
Di kesempatan yang lain, Rasulullah bersabda:
اِنَّاللهَكَتَبَعَلَيْكُمُاْلِاحْسَانَعَلَىكُلِّشَيْءٍ ,فَاِذَاقَتَلْتُمْفَاَحْسِنُوْالْقَتْلَةَوَاِذَاذَبَحْتُمْفَاَحْسِنُوْالذَّبْحَةَ
“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kebaikan pada segala sesuatu, maka jika kamu membunuh, bunuhlah dengan baik, dan jika kamu menyembelih, sembelihlah dengan baik…” (HR. Muslim)

Kita berkewajiban ihsan dalam beribadah, yaitu dengan menunaikan semua jenis ibadah, seperti shalat, puasa, haji, dan sebagainya dengan cara yang benar, yaitu menyempurnakan syarat, rukun, sunnah, dan adab-adabnya. Hal ini tidak akan mungkin dapat ditunaikan oleh seorang hamba, kecuali jika saat pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut ia dipenuhi dengan cita rasa yang sangat kuat (menikmatinya), juga dengan kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa memantaunya hingga ia merasa bahwa ia sedang dilihat dan diperhatikan oleh-Nya. Minimal seorang hamba merasakan bahwa Allah senantiasa memantaunya, karena dengan inilah ia dapat menunaikan ibadah-ibadah tersebut dengan baik dan sempurna, sehingga hasil dari ibadah tersebut akan seperti yang diharapkan. Inilah maksud dari perkataan Rasulullah saw yang berbunyi, “Hendaklah kamu menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”
Kini jelaslah bagi kita bahwa sesungguhnya arti dari ibadah itu sendiri sangatlah luas. Maka, selain jenis ibadah yang kita sebutkan tadi, yang tidak kalah pentingnya adalah juga jenis ibadah lainnya seperti jihad, hormat terhadap mukmin, mendidik anak, menyenangkan isteri, meniatkan setiap yang mubah untuk mendapat ridha Allah, dan masih banyak lagi. Oleh karena itulah, Rasulullah saw. menghendaki umatnya senantiasa dalam keadaan seperti itu, yaitu senantiasa sadar jika ia ingin mewujudkan ihsan dalam ibadahnya.
Berikut ini adalah mereka yang berhak mendapatkan ihsan tersebut:
         1)      Ihsan kepada Orang Tua
Allah SWT menjelaskan hal ini dalam kitab-Nya.

وَقَضَىرَبُّكَأَلاَّتَعْبُدُواْإِلاَّإِيَّاهُوَبِالْوَالِدَيْنِإِحْسَاناًإِمَّايَبْلُغَنَّعِندَكَالْكِبَرَأَحَدُهُمَاأَوْكِلاَهُمَافَلاَتَقُللَّهُمَاأُفٍّوَلاَتَنْهَرْهُمَاوَقُللَّهُمَاقَوْلاًكَرِيماً
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (QS. Al-isra : 23)
Dalam sebuah hadist riwayat Turmuzdi, dari Ibnu Amru bin Ash, Rasulullah saw. Bersabda :


رِضَىاللهُفِىرِضَىاْلوَالِدَيْنِوَسُخْطُاللهِفِىسُخْطِاْلوَاِلدَيْنِ
Artinya : “Keridhaan Allah berada pada keridhaan orang tua, dan kemurkaan Allah berada pada kemurkaan orang tua.”
Dalil di atas menjelaskan bahwa ibadah kita kepada Allah tidak akan diterima, jika tidak disertai dengan berbuat baik kepada kedua orang tua. Apabila kita tidak memiliki kebaikan ini, maka bersamaan dengannya akan hilang ketakwaan, keimanan, dan keislaman. Dan Akhlak kepada sesama manusia yang paling utama kepada kedua orang tua, berakhlak kepada mereka adalah dengan berbakti kepada keduanya, baik ketika hidup ataupun setelah wafatnya, sebagimana hadits Nabi :
Artinya : Dari Abu Usaid Malik bin Rabi’ah As-Sa’idy berkata : “Tatkala kami sedang bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba datang seseorang dari Bani Salamah seraya bertanya : “Ya Rasulallah apakah masih ada kesempatan untuk saya berbakti kepada Ibu Bapak saya setelah keduanya wafat?” Nabi menjawab : “Ya, dengan mendoakan keduanya, memohon ampun unyuknya, melaksanakan janjinya dan menyambung silaturrahmi dari sanak saudarnya serta memuliakan teman-temannya
         2)      Ihsan kepada kerabat karib.
Ihsan kepada kerabat adalah dengan jalan membangun hubungan yang baik dengan mereka, bahkan Allah SWT menyamakan seseorang yang memutuskan hubungan silatuhrahmi dengan perusak dimuka bumi. Allah berfirman :
”Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan dimuka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan.?” (Muhammad: 22)
Silaturahmi adalah kunci untuk mendapatkan keridhaan Allah.Hal ini dikarenakan sebab paling utama terputusnya hubungan seorang hamba dengan Tuhannya adalah karena terputusnya hubungan silaturahmi. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman:
أَنَااللَّهُوَأَنَاالرَّحْمَنُخَلَقْتُالرَّحِمَوَشَقَقْتُلَهَامِنْاسْمِيفَمَنْوَصَلَهَاوَصَلْتُهُوَمَنْقَطَعَهَابَتَتُّهُ
“Aku adalah Allah, Aku adalah Rahman, dan Aku telah menciptakan rahim yang Kuberi nama bagian dari nama-Ku.Maka, barangsiapa yang menyambungnya, akan Ku sambungkan pula baginya dan barangsiapa yang memutuskannya, akan Ku putuskan hubunganku dengannya.” (HR. Turmuzdi)
Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda, “Tidak akan masuk surga, orang yang memutuskan tali silaturahmi.” (HR. Syaikahni dan Abu Dawud)
         3)      Ihsan kepada anak yatim dan fakir miskin.
Diriwayatkan oleh Bukhari, Abu Dawud, dan Turmuzdi, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Aku dan orang yang memelihara anak yatim di surga kelak akan seperti ini…(seraya menunjukkan jari telunjuk jari tengahnya).”
Diriwayatkan oleh Turmuzdi, Nabi saw. Bersabda :
عَنْابْنِعَبَّاسٍأَنَّالنَّبِيَّصَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَقَالَمَنْقَبَضَيَتِيمًامِنْبَيْنِالْمُسْلِمِينَإِلَىطَعَامِهِوَشَرَابِهِأَدْخَلَهُاللَّهُالْجَنَّةَإِلَّاأَنْيَعْمَلَذَنْبًالَايُغْفَرُلَهُ
Dari Ibnu Abbas bahwasanya Nabi SAW bersabda : “Barangsiapa—dari Kaum Muslimin—yang memelihara anak yatim dengan memberi makan dan minumnya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga selamanya, selama ia tidak melakukan dosa yang tidak terampuni.”
         4)      Ihsan kepada tetangga dekat, tetangga jauh, serta teman sejawat.
Ihsan kepada tetangga dekat meliputi tetangga dekat dari kerabat atau tetangga yang berada di dekat rumah, serta tetangga jauh, baik jauh karena nasab maupun yang berada jauh dari rumah.
Adapun yang dimaksud teman sejawat adalah yang berkumpul dengan kita atas dasar pekerjaan, pertemanan, teman sekolah atau kampus, perjalanan, ma’had, dan sebagainya.Mereka semua masuk ke dalam katagori tetangga. Seorang tetangga kafir mempunyai hak sebagai tetangga saja, tetapi tetangga muslim mempunyai dua hak, yaitu sebagai tetangga dan sebagai muslim, sedang tetangga muslim dan kerabat mempunyai tiga hak, yaitu sebagai tetangga, sebagai muslim dan sebagai kerabat.
Rasulullah saw. menjelaskan hal ini dalam sabdanya :
عَنْعَبْدِاللَّهِبْنِمَسْعُودٍقَالَقَالَرَسُولُاللَّهِصَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَوَالَّذِينَفْسِيبِيَدِهِلَايُسْلِمُعَبْدٌحَتَّىيَسْلَمَقَلْبُهُوَلِسَانُهُوَلَايُؤْمِنُحَتَّىيَأْمَنَجَارُهُبَوَائِقَهُ
Dari Abdullah bin Mas’ud RA berkata, bersabda Rasulullah SAW : Demi Yang jiwaku berada di tangan-NYA tidaklah selamat seorang hamba sampai hati dan lisannya selamat (tidak berbuat dosa) dan tidaklah beriman (sempurna keimanannya) seorang hamba sehingga tetangganya merasa aman dari gangguannya. (HR.Ahmad)
Pada hadits yang lain, Rasulullah bersabda :
لاَيُؤْمِنُبِيمَنْباَتَشَبْعَانًاوَجَارُهُجَائِعٌوَهُوَيَعْرِفُهُ
“Tidak beriman kepadaku barangsiapa yang kenyang pada suatu malam, sedangkan tetangganya kelaparan, padahal ia megetahuinya.”(HR. ath-Thabrani)
         5)      Ihsan kepada ibnu sabil dan hamba sahaya.
Rasulullah saw. bersabda mengenai hal ini :
مَنْكَانَيُؤْمِنُبِاللَّهِوَالْيَوْمِالْآخِرِفَلْيُكْرِمْضَيْفَهُ
Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah memuliakan tamunya.” (HR. Jama’ah, kecuali Nasa’i)
Selain itu, ihsan terhadap ibnu sabil adalah dengan cara memenuhi kebutuhannya, menjaga hartanya, memelihara kehormatannya, menunjukinya jalan jika ia meminta, dan memberinya pelayanan.

جَاءَرَجُلٌإِلَىالنَّبِيِّصَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَفَقَالَيَارَسُولَاللَّهِكَمْأَعْفُوعَنْالْخَادِمِفَصَمَتَعَنْهُرَسُولُاللَّهِصَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَثُمَّقَالَيَارَسُولَاللَّهِكَمْأَعْفُوعَنْالْخَادِمِفَقَالَكُلَّيَوْمٍسَبْعِينَمَرَّةً
Pada riwayat yang lain, dikatakan bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw. dan berkata, “Ya, Rasulullah, berapa kali saya harus memaafkan hamba sahayaku?” Rasulullah diam tidak menjawab.Orang itu berkata lagi, “Berapa kali ya, Rasulullah?”Rasul menjawab, “Maafkanlah ia tujuh puluh kali dalam sehari.” (HR. Abu Daud dan at-Turmuzdi).
إِذَاصَنَعَلِأَحَدِكُمْخَادِمُهُطَعَامَهُثُمَّجَاءَهُبِهِوَقَدْوَلِيَحَرَّهُوَدُخَانَهُفَلْيُقْعِدْهُمَعَهُفَلْيَأْكُلْفَإِنْكَانَالطَّعَامُمَشْفُوهًاقَلِيلًافَلْيَضَعْفِييَدِهِمِنْهُأُكْلَةًأَوْأُكْلَتَيْنِ
Dalam riwayat yang lain, Rasulullah saw bersabda, “Jika seorang hamba sahaya membuat makanan untuk salah seorang diantara kamu, kemudian ia datang membawa makanan itu dan telah merasakan panas dan asapnya, maka hendaklah kamu mempersilahkannya duduk dan makan bersamamu. Jika ia hanya makan sedikit, maka hendaklah kamu mememberinya satu atau dua suapan.” (HR. Bukhari, Turmuzdi, dan Abi Daud)
Adapun muamalah terhadap pembantu atau karyawan dilakukan dengan membayar gajinya sebelum keringatnya kering, tidak membebaninya dengan sesuatu yang ia tidak sanggup melakukannya, menjaga kehormatannya, dan menghargai pribadinya. Jika ia pembantu rumah tangga, maka hendaklah ia diberi makan dari apa yang kita makan, dan diberi pakaian dari apa yang kita pakai.
Pada akhir pembahasan mengenai bab muamalah ini, Allah SWT menutupnya firman-Nya yang berbunyi :

إِنَّاللَّهَيُدَافِعُعَنِالَّذِينَآمَنُواإِنَّاللَّهَلَايُحِبُّكُلَّخَوَّانٍكَفُورٍ
Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman.Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari ni'mat. (QS. Al-Hajj: 38)
Ayat di atas merupakan isyarat yang sangat jelas kepada siapa saja yang tidak berlaku ihsan.Bahkan, hal itu adalah pertanda bahwa dalam dirinya ada kecongkakan dan kesombongan, dua sifat yang sangat dibenci oleh Allah SWT.
         6)      Ihsan dengan perlakuan dan ucapan yang baik kepada manusia.

مَنْكَانَيُؤْمِنُبِاللَّهِوَالْيَوْمِالْآخِرِفَلْيَقُلْخَيْرًااَوْلِيَصْمُتْ
Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Masih riwayat dari Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda :
قَوْلُاْلمَعْرُوْفِصَدَقَةٌ
Ucapan yang baik adalah sedekah.”
* Bagi manusia secara umum, hendaklah kita melembutkan ucapan, saling menghargai dalam pergaulan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegahnya dari kemungkaran, menunjukinya jalan jika ia tersesat, mengajari mereka yang bodoh, mengakui hak-hak mereka, dan tidak mengganggu mereka dengan tidak melakukan hal-hal dapat mengusik serta melukai mereka.
         7)      Ihsan dengan berlaku baik kepada binatang.
Berbuat ihsan terhadap binatang adalah dengan memberinya makan jika ia lapar, mengobatinya jika ia sakit, tidak membebaninya diluar kemampuannya, tidak menyiksanya jika ia bekerja, dan mengistirahatkannya jika ia lelah. Bahkan, pada saat menyembelih, hendaklah dengan menyembelihnya dengan cara yang baik, tidak menyiksanya, serta menggunakan pisau yang tajam.
Inilah sisi-sisi ihsan yang datang dari nash Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw.
· Beberapa contoh ihsan dalam hal muamalah
Pada Perang Uhud, orang-orang Quraisy membunuh paman Rasulullah saw, yaitu Hamzah. Mereka mencincang tubuhnya, membelah dadanya, serta memecahkan giginya, kemudian seorang sahabat meminta Rasulullah saw. berdoa agar mereka diazab oleh Allah. Akan tetapi, Rasulullah malah berkata :
اَلَّلهُمَّاهْدِقَوْمِيْفَاِنَّهُمْلَايَعْلَمُوْنَ
Ya Allah, ampunilah mereka, karena mereka adalah kaum yang bodoh.”


  1. Keutamaan Ihsan

           Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّاللهَمَعَالَّذِينَاتَّقَوْاوَالَّذِينَهُممُّحْسِنُونَ
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. An Nahl: 128).
Dalam ayat ini Allah menunjukkan keutamaan seorang muhsin yang bertakwa kepada Allah, yang tidak meninggalkan kewajibannya dan menjauhi segala yang haram. Kebersamaan Allah dalam ayat ini adalah kebersamaan yang khusus. Kebersamaan khusus yakni dalam bentuk pertolongan, dukungan, dan petunjuk jalan yang lurus sebagai tambahan dari kebersamaan Allah yang umum (yakni pengilmuan Allah). Makna dari firman Allah وَالَّذِينَهُممُّحْسِنُونَ ( dan orang-orang yang berbuat ihsan) adalah yang mentaati Rabbnya, yakni dengan mengikhlaskan niat dan tujuan dalam beribadah serta melaksankanan syariat Allah dengan petunjuk yang telah dijelasakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Dalam ayat lain Allah berfirman,

وَأَنفِقُوافِيسَبِيلِاللهِوَلاَتُلْقُوابِأَيْدِيكُمْإِلَىالتَّهْلُكَةِوَأَحْسِنُواإِنَّاللهَيُحِبُّالْمُحْسِنِينَ
Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat ihsan.” (Al Baqarah:195)

Ketika menafsirkan ayat ini Syaikh As Sa’di menjelaskan bahwa ihsan pada ayat ini mecakup seluruh jenis ihsan. Hal ini karena tidak ada pembatasan pada ayat ini. Maka termasuk di dalamnya ihsan dengan harta, kemuliaan, pertolongan, perbuatan memrintahkan yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, mengajarkan ilmu yang bermanfaat, dan perbuatan ihasan lain yng diperintahkan oleh Allah. Termasuk di dalamnya juga adalah ihsan dalam beribadah kepada Allah. Hal ini sebagaimnan sabda Nabi ‘Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.. Barangsiapa yang memiliki sifat ihsan tersebut, maka dia tergolong orang-orang yang Allah terangkan dalam firman-Nya لِلَّذِينَأَحْسَنُواالْحُسْنَىوَزِيَادَةٌ “Bagi orang-orang yang berbuat ihsan, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah Allah ta’ala)” (QS Yunus: 26) Allah akan bersamanya, memberinya petunjuk, membimbingnya, serta menolongnya dalam setiap urusannya.
Allah Ta’ala juga berfirman,

وَإِنكُنتُنَّتُرِدْنَاللهَوَرَسُولَهُوَالدَّارَاْلأَخِرَةَفَإِنَّاللهَأَعَدَّلِلْمُحْسِنَاتِمِنكُنَّأَجْرًاعَظِيمًا
“Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat ihsan (kebaikan) diantaramu pahala yang besar.” (QS. Al Ahzab: 29)



  1. Implementasi Ihsan dalam Kehidupan Sehari-hari

 Sikap ihsan ini harus berusaha kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita berbuat amalan kataatan, maka perbuatan itu selalu kita niatkan untuk Allah. Sebaliknya jika terbesit niat di hati kita untuk berbuat keburukan, maka kita tidak mengerjakannya karena sikap ihsan yang kita miliki. Seseorang yang sikap ihsannya kuat akan rajin berbuat kebaikan karena dia berusaha membuat senang Allah yang selalu melihatnya. Sebaliknya dia malu berbuat kejahatan karena dia selalu yakin Allah melihat perbuatannya.Ihsan adalah puncak prestasi dalam ibadah, muamalah, dan akhlak seorang hamba. Oleh karena itu, semua orang yang menyadari akan hal ini tentu akan berusaha agar sampai pada tingkat tersebut. Siapa pun kita,  di mata Allah tidak ada yang lebih mulia dari yang lain, kecuali mereka yang telah naik ke tingkat ihsan dalam seluruh amalannya. Kalau kita cermati pembahasan di atas, untuk meraih  derajat ihsan, sangat erat kaitannya dengan benarnya pengilmuan seseorang tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah.
Pembiasaan perilaku ihsan yang mempunyai pengaruh cukup besar dalam membentuk perilaku, membina dan meningkatkan kualitas keimanan dan pengetahuan dikalangan siswa. Pembiasaan bagi siswa ini lebih dituntut untuk menekankan amaliah yang mendorong dalam berbuat baik, baik dalam perbuatan, ucapan dan lainnya.



Materi 5

PERKEMBANGAN ISLAM DI INDONESIA

A.    Masuknya Islam di Indonesia
Dalam sebagian buku sejarah Indonesia kita jumpai keterangan bahwa Islam ke Indonesia pada abad ke-13 M. Akan tetapi, apakah benar agama Islam baru tersebar di wilayah Nusantara pada abad tersebut. Beberapa penelitian sejarah membuktikan bahwa banyak peninggalan benda sejarah yang ditemukan berusia lebih tua dibanding dengan keterangan yang tercantum dalam beberapa buku sejarah Indonesia. Bahkan bisa dibilang bahwa pendapat tersebut kurang tepat. Sebagian sejarawan mensinyalir bahwa keterangan tersebut diambil dari buku-buku yang ditulis pada zaman kolonial yang bertujuan untuk mengaburkan fakta sejarah Islam di Indonesia.
Sebagaimana kita sudah ketahui, agama Islam muncul di kota Mekah yang dibawa oleh Nabi Allah Muhammad Saw  pada tahun 571-632 M. Tanpa diprediksi sebelumnya, dakwah Islam ternyata mengalami proses penyebaran yang sangat cepat. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, ajaran tauhid tersebut telah tersebar ke seluruh negeri Arab dan negeri – negeri sekitarnya. Pada masa itu juga, yakni pada abad VII M. Agama Islam telah masuk ke kawasan Tiongkok dan terus menyebar ke kawasan Asia Tenggara, termasuk kawasan Nusantara yang telah kedatangan para saudagar muslim pada abad VII M.
Banyak versi yang menyebutkan daerah asal saudagar muslim yang singgah di pelabuhan-pelabuhan Nusantara pada abad-abad itu. Di antaranya pendapat yang rnenyebutkan bahwa agama Islam mula-mula disiarkan oleh saudagar Gujarat – India, ada pula yang menyebutkan berasal dari Persia, dan ada juga yang menyebutkan berasal dari Arab.
Pendapat yang menyebutkan bahwa para saudagar muslimin itu berasal dari Arab berargumen bahwa tempat-tempat seperti Cambay, Gujarat maupun Malabar hannya sebagai tempat persinggahan bagi para penyiar agama Islam tersebut. Dengan demikian, mereka juga para saudagar yang berasal dari Arab.
Memang pada awalnya penyiaran agama Islam di Nusantara hanya melalui kontak perdagangan maupun pernikahan saudagar muslim dengan pribumi. Akan tetapi, setelah sentra keislaman di Timur Tengah dihancurkan oleh tentara Mongol, banyak ulama yang bermigrasi ke beberapa wilayah, seperti ke Mesir dan termasuk Nusantara. Semenjak itulah terjadi proses penyebaran Islam yang tidak hanya dilakukan oleh para saudagar muslim, namun juga dimotori oleh para ulama, teristimewa dari kalangan sufi.
Di antara sejarawan yang menyebutkan periode masuknya Islam di Indonesia adalah Dr. Hamka. Beliau berpendapat bahwa Islam telah masuk ke pulau Jawa pada abad ke-7 M, tepatnya pada tahun 674 M. Di pulau Jawa sendiri pada waktu itu telah dijumpai orang-orang Arab Islam. Sementara seminar tentang masuknya Islam di Indonesia di Medan tanggal 17-20 Maret 1963 mengambil kesimpulan bahwa Islam masuk di Indonesia pada abad 1 H/ abad  VII M langsung dari Arab. Daerah yang pertama didatangi para penyiar Islam adalah pesisir Sumatra. Menurut penelitian Drs. Juned Pariduri, ada sebuah makam/ kuburan seorang ulama yang bernama Syeikh Mukaiddin di Barus (Tapanulis). Batu nisan makam tersebut berangka tahun ba’-mim yang berarti 48 H = 670 M. Dengan demikian, menurutnya Islam datang ke Indonesia pada abad ke-7 M.

B.     Perkembangan Islam di Indonesia
  1. Perkembangan Islam di Sumatera
Agama Islam masuk ke Sumatra pada abad ke-7 M, langsung dibawa oleh para penyebar Islam dari Arab, yang kemudian diikuti oleh orang Persia dan India. Selanjutnya secara berangsur-angsur disiarkan oleh bangsa Indonesia sendiri hingga tersebar luas bukan saja di kawasan Sumatra, melainkan ke seluruh kepulauan Indonesia.
Adanya kerajaan Buddha Sriwijaya (tahun 683-1030 M), sedikit banyak mempengaruhi pertumbuhan Islam yang baru masuk, sehingga penyiarannya mengalami proses yang lama. Setelah Kerajaan Sriwijaya mendapat serbuan dari raja Rajendracoladewa dari India tahun 1030 M, kekuatan kerajaan menjadi lemah, sehingga daerah-daerah yang baru mengalami proses pengislaman mengalami kemajuan yang pesat dan memiliki kesempatan yang baik untuk mendirikan kerajaan Islam yang pertama di Pasai. Pada saat-saat itu dakwah Islam khususnya di daerah Aceh dan Sumatra Utara mulai memperluas wilayahnya. Maka perkembangan Islam mulai dari Pasai ke Malaka, Tapanuli, Riau, Minangkabau, Kerinci dan ke darah-daerah lainnya.
Perkembangan berikutnya ditandai dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di Sumatra, antara lain kerajaan Islam Samudra Pasai abad XII-XV dan Kerajaan Aceh pada abad XVI. Raja-raja Islam yang pernah berkuasa pada masa kerajaan Samudra Pasai antara lain:
a.  Sultan al-Malikush Shaleh
b.  Sultan al-Malikuz Zahir I
c.  Sultan al-Malikuz Zahir II
d.  Sultan Iskandar
Sedangkan Raja-raja yang pernah berkuasa pada masa Kerajaan Aceh adalah sebagai berikut :
a.       Sultan Ali Mughayat atau dikenal dengan nama Sultan Ibrahim.
b.      Sultan Shalahuddin
c.       Sultan Azlauddin Ri’ayat Shah
d.      Sultan  Husin
e.       Sultan Zainal Abidin
f.       Sultan Alauddin Shah\
g.       Sultan Ali Ri'ayat Syah
h.      Sultan Alauddin Mansyur Shah
i.        Sultan Iskandr Muda Mahkota Alam.
  1. Perkembangan Islam di Jawa
Pada masa-masa masuknya Islam di Jawa, kondisi politik kerajaan Hindu, baik di Jawa Barat, Jawa Tengah, maupun Jawa Timur masih sangat kuat. Agama Islam yang datang lebih belakang tidak bisa tersiar dengan cepat dan mudah. Setelah mengalami proses yang lama (antara abad ke-7 sampai 16 M), agama Islam di Jawa baru dapat berkembang dengan pesat, yaitu setelah kerajaan Hindu Majapahit mulai merosot kekuasaanya.
Perkembang Islam di Jawa tidak terlepas dari perjuangan para Wali Sembilan (Wali Songo) yang hidup pada zaman kesultanan Demak antara tahun 1500-1550 M. Mereka juga berjasa dalam mempertahankan negaradari ancaman penjajah Portugis. Wali-wali sembilan tersebut adalah sebagai berikut :
a.      Maulana Malik Ibrahim
Maulana Malik Ibrahim juga terkenal dengan nama Maulana Maghribi yang berasal dari negeri Arab keturunan dari Zainul Abidin bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Beliau wafat pada tanggal 12 Rabiul Awal 882 H / April 1419 M.
Jasa-jasanya antara lain, pada tahun 1379 M bermaksud mengislamkan Raja Majapahit, yaitu Hayam Wuruk, tetapi usahanya tidak berhasil. Di Gresik ia mendirikan masjid dan pondok pesantren tempat belajar para pemuda sebagai calon muballig Islam. Dari Gresik ia inengembangkan sayapnva untuk menyebarkan agama Islam di daerah-daerah lain di Indonesia.
b.      Sunan Ampel (Raden Rahmat)
Raden Rahmat berasal dari Campa, seorang Arab dan ibunya berasal dari Campa. Ia menikah dengan seorang putri dari Tuban, bernama Nyai Ageng Manila. Dari pernikahannya membuahkan keturunan Makhdum Ibrahim, Masih Maunat dan Nyai Gede Malihan
Jasa-jasanya antara lain, mengislamkan Arya Damar, yaitu patih Mangkubumi Majapahit. Beliau bertempat tinggal di Ampel-Surabaya untuk mengembangkan dakwah Islam dan menjadikan Ampel sebagai pusat kegiatan Islam, sehingga ia dikenal dengan nama Sunan Ampel.
c.       Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim)
Ia putra pertama Sunan Ampel, lahir pada tahun 1465 M. Berjasa dalam menyiarkan agama Islam di Jawa Timur. Ia mendirikan pondok pesantren untuk membina kader-kader Islam. Ia Wafat tahun 1515 M dan jenazahnya dimakamkan di Tuban.
d.      Sunan Giri (Maulana Ainul Yakin/ Raden Paku)
Ayahnya bernama Maulana Ishak. Waktu muda ia belajar ke Malaka, Iran dan Mekah. Kemudian ia menetap di Giri dekat Gresikdan disana mendirikan Masjid serta pondok pesantren. Sunan Giri berjasa mempertahankan Giri sebagai pusat keagamaan. Sehingga dikatakan bahwa sebelum Pemerintah Demak berdiri,Girilah satu-satunya Pemerintah Ulama di Jawa.
e.       Sunan Darajat (Raden Syarifuddin)
Sunan Drajat adalah putra Sunan Ampel. Ia menyiarkan agama Islam di Sedayu, Gresik, Jawa Timur. Ia adalah seorang Wali yang sangat cerdas dan giat menyiarkan agama Islam.Ia panutan masyarakat, pernah menciptakan gending Pangkur
f.        Sunan Kalijaga
Ia putra Tumenggung Suhur Wilatikta, Bupati Tuban. Ia menikah dengan Dewi Sarah binti Ishaq. Pernikahan ini membuahkan keturunan Umar Said (Sunan Muria),dewi Rukayah dan Dewi Safiah.
Ia adalah wali yang sangat berpengaruh di Jawa Tengah. Sunan Kalijaga mengajarkan Islam, dengan cara memuaskan hikayat Islam ke dalam cerita wayang. Ia melakukan dakwah kepada para petani dengan memberi alat-alat pertanian. Alat-alat itu ditafsirkan satu persatu yang mengandung pengertian agama. Karenanya rakyat sangat mencintainya dan sangat popular di kalangan masyarakat jelata. Berkat dakwahnya yang sangat bijaksana, banyak masyarakat yang masuk Islam. Setelah wafat, jenazahnya dimakamkan di desa Kadilangu dekat Demak. Banyak umat islam berziarah ke sana.
g.      Sunan Kudus (Syeikh Ja’far Shiddiq)
Sunan Kudus merupakan keturunan ‘Ali bin Abi Thalib. Nama kecilnya Untung ia berdakwah dengan cara mengikis habis pengaruh-pengaruh Hindu. Ia banyak berdakwah ke pesisir Jawa Tengah sebelah Utara. Ia pernah diangkat menjadi senopati Demak. Ia menciptakan gading Maskumambang dan Mijil. Beliau dimakamkan di Kudus yang hingga sekarang banyak diziarahi umat Islam. 
h.      Sunan Muria (Umar Sa’id)
Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijaga, menikah dengan Dewi Sujinah dan dikaruniai seorang putra bernama Pangeran Santri. Sunan Muria berjuang menyiarkan agama di daerah Muria dekat kota Kudus. Untuk kepentingan dakwahnya ia menciptakan lagu jawa Sinom dan Kinanti. Setelah wafat dimakamkan di Gunung Muria.
i.        Sunan Gunung jati (Fatahillah)
Fatahillah lahir dan dibesarkan di Pasai dari orang tua berketurunan Arab, ia kemudian hijrah ke Demak pada masa Pangeran Trenggono menjadi Sultan Demak III. Selain sebagai seorang da’i, beliau juga seorang politikus dan panglima perang. Fatahillah berhasil menaklukkan Jawa secara umum dengan membangun kerajaan Banten dan Cirebon, merebut Sunda Kelapadan mengganti namanya menjadi Jayakarta pada tahun 1572. Sebagai ulama, ia dikenal dengan beberapa gelar, antara lain : Syeikh Ibrahim bin Maulana Syeikh Ismail, Syarif HIdayatullah, Sayid Kamil dan Makhdum Rahmatullah. Beliau wafat tahun 1572 dan dimakamkan di Gunung Jati Cirebon.
3.      Perkembangan Islam di Sulawesi
Perkembangan islam di Sulawesi tidak sepesat perkembangan Islam di Jawa dan Sumatra. Pengislaman di Sulawesi dilakukan dengan cara damai. Kadang-kadang memang terjadi pertentangan antara daerah yang satu dengan daerah yang lainnya. Akan tetapi, pertentangan tersebut bukan karena kepentingan Islam, melainkan karena kepentingan politik satu kerajaan Islam dengan kerajaan non-Islam, misalnya Kerajaan Gowa dengan Kerajaan Sopeng. Para penyebar Islam di Sulawesi yang terkenal adalah Dato’ti Bandang dan Dato Sulaiman. Dato’ti Bandang berasal dari Jawa, murid Sunan Giri. ia mengajarkan agama Islam kepada rakyat dan raja.
Daerah pelopor pengembangan agama Islam di Gowa-Tallo, Semula Gowa – Tallo hanya kerajaan kecil yang terdiri dari sembilan daerah, yaitu : Laking, Saumata, Parang-parang, Data, Agong – Jenu, Besir, Kalling dan Sero. Sembilan daerah tersebut terus diperluas ke daerah Katinggang, Perisi, Sedang, Sidenreng, Lembayung, Bulu Komba dan Selayar. Daerah – daerah sebanyak itu diislamkan oleh Gowa-Talo. Setelah daerah-daerah tersebut diislamkan, pengembangan Islam terus diperluas ke daerah – daerah Kerajaan Sopeng, Wajo dan akhirnya Bone sekitar tahun 1606 diislamkan oleh Woga – Tallo.
Pada waktu kerajaan Gowa berdiri di bagian Selatan Sulawesi, dibagian utara berdiri pula Kerajaan Bolang Mongondo yang berhaluan Kristen. Jacobus Manoppo adalah raja pertamanya, memerintah tahun 1689 – 1709 M. Para Muballig Bugis datang menyiarkan agama Islam ke bagian Utara pada abad ke-18 yang dipelopori oleh Hakim Bugis dan Imam Tuwako. Secara perlahan-lahan masyarakat kalangan bawah banyak yang tertarik kepada Islam. Bahkan pada tahun 1844 M, Raja Yacobus masuk Islam secara terang-terangan, sehingga secara berbondong-bondong banyak masyarakat yang ikut masuk Islam.
Banyaknya kaum Kristiani yang memeluk Islam karena beberapa hal, antara lain:
1)      Tertarik kepada kepribadian pada muballig Islam
2)      Para muballig Bugis mampu menjelaskan agama Islam terutama yang berkaitan dengan masalah ketuhanan
3)      Terputusnya bantuan dan dukungan pemerintahan Hindia Belanda yang selama itu diberikan VOC.
4.      Perkembangan Islam di kalimantan.
Sebelum agama Islam masuk ke Kalimantan, masyarakat banyak yang memeluk agama Hindu, terutama karena pengaruh kekuasaan Kerajaan Majapahit. Setelah Majapahit runtuh pada tahun 1488 M, mulai timbul pemberontakan dan perebutan kekuasaan. Raja Banjar yang beragama Hindu minta bantuan Sultan Demak. Demak bersedia memberi bantuan dengan syarat Raja Bandar dan penduduknya memeluk agama Islam. Syarat ini diterima oleh Raja Banjar. Setelah memeluk Islam, Raja Banjar mengganti namanya menjadi Suryanullah. Sultan Suryanullah dengan bantuan dari Demak dapat mengalahkan Kerajaan Negaradipa dan agama Islam pun semakin berkembang di kawasan Kalimantan.
Masih pada abad ke-16 atau pada tahun 1590 M Kerajaan Sukadana resmi menjadi kerajaan Islam, dengan Sultan pertamanya adalah Sunan Giri Kusuma. Setelah itu digantikan oleh putranya, yaitu Sultan Muhammad Syarifuddin. Beliau banyak berjasa dalam mengembangkan Islam kerena bantuan seorang muballig bernama Syeikh Syamsuddin.  
5.      Perkembangan Islam di Maluku dan Irian
Sultan Zainal Abidin yang memerintah Ternate (1486 – 1500 M) telah masuk Islam. Demikian juga Sultan Cililiyati dari Tidore dan sultan Hasanuddin dari Jailolo. sebelum ketiga orang sultan tersebut masuk Islam, rakyat Maluku sudah banyak yang masuk Islam. Pada masa itu masyarakat muslim sudah terdapat di Banda, Hitu, Haruku, Makyan dan Bacan.
Hubungan antara maluku dan jawa erat, Sultan Zainal Abidin sendiri mendapat pelajaran agama Islam di Giri. Sultan juga membawa muballig dari Giri bernama Tuhubahabul agar mengajar dan mengembangkan Islam di daerah Maluku. Sejak tahun 1575, Sultan Bahabullah di Ternate terus mengembangkan agama Islam, sehingga Islam banyak dipeluk oleh rakyat Mindanau, Irian, Sulawesi sampai pulau Buton.
Sementara itu, Islam tidak berkembang dengan pesat di Irian, terutama karena kuatnya pengaruh kepercayaan masyarakat dan jauhnya jangkauan para muballig. Walaupun demikian, Islam telah masuk disana pada abad ke-16 M. Banyaknya Sultan Zainal Abidin. Daerah-daerah yang banyak pemeluk Islamnya antara lain Misol, Sulawati, Waigeo, dan pulau Gebi.

6.      Perkembangan Islam di Nusa Tenggara.
Yang berjasa menyebarkan Islam di kawasan Nusa Tenggara adalah para pedagang Bugis dari Sulawesi Selatan dan pedagang-pedagang dari Jawa. Pengislaman di Nusa Tenggara sangat lancar dan mencapai persentase yang tinggi, terutama di Lombok dan Sumbawa. Bahkan di Sumbawa berhasil didirikan kerajaan Islam yang berpusat di Bima.
Gunung Tambora meletus pada tahun 1815 M, menelan korban yang sangat banyak. Peristiwa ini dimanfaatkan oleh H. Ali seorang Muballig, cendekiawan dan pemimpin muslim Sumbawa untuk menyadarkan penduduk tentang kekuasaan Allah swt. Usaha ini berhasil dengan banyaknya masyarakat yang memeluk Islam. 
C.     ­Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan
Dalam sejarah Islam Nusantara, para ulama penyebar Islam selain mengembangkan ilmu-ilmu keislaman juga tidak pernah mengabaikan aspek kebudayaan wilayah setempat. Bahkan tidak jarang mereka memadukan unsur budaya setempat dengan nilai-nilai Islam sebagaimana yang telah dilakukan oleh Wali Songo. Tentu semangat keilmuan dan penghargaan terhadap budaya seperti inilah yang seharusnya diteladani oleh kaum muslimin Indonesia sekarang ini. Selain Wali Songo, berikut ini akan disebutkan beberapa tokoh islam yang telah mengembangkan ilmu pengetahuan dan kebudayaan di kawasan Nusantara.
1.      Hamzah Fansuri
Hamzah fansuri merupakan salah seorang ulama yang mengajarkan paham taSaw uf yang banyak dipengaruhi oleh ajaran Ibnu ’Arabi, Abdul Karim Jili, Husain Manshur al-Hallaj, al-Busthami, Jalaluddin Rumi dan lain-lain. Beliau hidup pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Riayat Syah IV (1589 M – 1604 M). Sultan Iskandar Muda (1607 M – 1636 M) dan Sultan Iskandar Tsani (1636 M – 1641 M)
Hamzah Fansuri juga telah mengembangkan ajaran-ajaran sufinya berdasarkan pengalaman rohaninya sendiri selain merujuk pada ajaran beberapa tokoh sufi yang disebutkan di atas. Pengalaman ini kemudian dirumuskan dalam karya-karya sastranya yang lebih mudah diterima oleh masyarakat. Beberapa karya sastra ulama asal Aceh ini penuh Dengan nuansa keagamaan, seperti Syair si burung pingai. Beliau dapat dikategorikan sebagai pelopor sastra sufi Melayu klasik di tanah Sumatra. dipadukan dengan sastra Persia (ruba’i) yang penuh dengan nilai-nilai religi.
Disamping itu, Hamzah Fansuri telah memolopori risalah taSaw uf dan keagamaan lain dengan menggunakan kaidah ilmiah yang disusun secara sistematis. Beliau juga mengembangkan pengetahuan filsafat dan mistik dengan pendekatan Islam. Kedalaman makna syair-syair melebihi karya-karya sastrawan lain, baik yang satu angkatan denannya maupun sesudahnya.  
2.        Syamsuddin Sumatrani
                   Beliau merupakan salah satu terkemuka yang berpengaruh serta berperan besar dalam sejarah pengembangan intelektualitas Islam di Aceh pada kisar abad ke-17. Pada masa pemerintahan Sayyid Mukammil (1589 – 1604), Syamsuddin Suamtrani sudah menjadi orang kepercayaan Sultan Aceh. Beliau merupakan murid dari Hamzah Fansuri. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya karya tulis syamsuddin Sumantrani yang merupakan ulasan (syarah) terhadap ajaran Hamzah Fansuri. Karya tulis tersebut adalah Syarah Ruba’i Hamzah Fansuri
                   Adapun karya tulis yang lain, baik yang berbahasa Arab maupun Melayu adalah Jambarul Haqa’iq yang terdiri dari 30 halaman dengan menggunakan bahasa Arab. Kitab ini membahas tentang martabat tujuh dan jalan mendekatkan diri kepada Tuhan. Kitab Mir’atul Mu’mini karya yang terdiri dari 70 halaman dengan menggunakan bahasa Melayu. Karya ini menjelaskan ajaran keimanan kepada Allah para rasulnya, kitab-Nya, pra malaikat-Nya, hari akhirat, dan qada’-qadar-Nya karya ini membicarakan butir-butir akidah yang sejalan dengan paham Ablus sunan wal jama’ah     
3.        Nuruddin ar – Raniri
                   Nuruddin ar-Raniri dikenal sebagai seorang ulama dan penulis produktif. Beliau menulis tidak kurang dari 26 buku. Karya-karya tersebut meliputi berbagai cabang ilmu agama, mulai dari taSaw uf, ilmu kalam, fikih, hadis, sejarah, perbandingan agama dan sebagainya. Disamping itu, ar – Raniri juga merupakan salah satu ulama yang berjasa menyebarluaskan bahasa Melayu di Kawasan Asia Tenggara. Karya – karyanya banyak ditulis dalam bahasa Melayu, sehingga menjadikannya sebagai bahasa Islam kedua setelah bahasa Arab. Bahkan, ketika itu cara yang paling mudah untuk memahami ajaran agama Islam adalah dengan menguasai bahasa Melayu. Hubungan yang harmonis antara ar-Raniri dengan Sultan Isakndar ats-Tsani memberi peluang besar bagi pengembangan ajaran dan paham yang dibawahnya. Peluang ini makin nyata setelah diangkat menjadi multi kerajaan Aceh.
4.      Yusuf al-Makasari
Beliau merupakan salah satu kerabat dari kerajaan Gowa. Pada tahun 1644, dia belajar ke Mekah. Sebelum berangkat ke Mekah, dia singgah di Banten kemudian ke Aceh untuk belajar dengan Nuruddin ar-Raniri
Pada tahun 1667, Yusuf al-Makasari kembali ke Nusantara setelah mengembara selama 22 tahun untuk belajar agama, baik ke Mekah maupun Yaman. Setelah kembali ke tanah air, Yusuf al-Makasari langsung melancarkan gerakan pembaharuan yang bertujuan untuk memurnikan Islam dari sisa-sisa paganisme dan kepercayaan-kepercayaan yang tidak Islami. Melalui karya tulisnya, beliau menyebarkan gagasan-gagasan tentang Islam yang murni dan lebih berorientasi pada syari’at
5.      ’Abdur Ra’uf Singkel.
’Abdurra’uf Singkel termasuk ulama yang produktif dalam menuliskan karyanya. Karya-karyanya dijadikan referensi agama oleh kaum muslimin dibawah Asia Tenggara. Ada sekitar 12 karya yang telah beliau tulis. Karya tersebut ada yang berbahasa Melayu maupun bahasa Arab. Sebagian besar karya tulisnya berkaitan dengan masalah fikih dan taSaw uf. semua tulisannya yang berbahasa Melayu diorientasikan pada kondisi Melayu dan disusun pada tingkat yang sesuai dengan kondisi murid-muridnya. Dengan demikian, mereka dapat memahami Islam secara lebih baik. Sejauh menyangkut tulisannya tentang taSaw uf, ’Abdurra’uf Singkel senantiasa menjelaskan bahwa wajib bagi para sufi untuk menempuh jalur syari’at
Bila diperhatikan dari seluruh kehidupan para ulama terdahulu, dapat diketahui bahwa mereka merupakan orang – orang yang rajin menuntut ilmu, bahkan hingga ke luar negeri. setelah mereka memperoleh ilmu pengetahuan yang cukup, mereka segera mengajarkannya kepada orang lain yang belum mengetahuinya. Selain berdakwah secara lisan, mereka juga memiliki keahlian dalam menyebarkan ilmu-ilmunya melalui karya tulis. Disamping itu, ketika mereka dipercaya menduduki jabatan penting, mereka tetap gigih menjalankan tugasnya untuk berdakwah. Semangat inilah yang seharusnya diwarisi oleh generasi muslim dewasa ini.   

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar